Jakarta – Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot (TEP) mulai menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat di sejumlah kawasan transmigrasi Papua. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemetaan persoalan, tetapi diteruskan dengan menghadirkan solusi di bidang ekonomi, pendidikan, konektivitas, energi, hingga kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu dampaknya terlihat di Manokwari. Melalui pelatihan pengolahan hasil kebun, mama-mama Orang Asli Papua (OAP) mulai mampu meningkatkan nilai jual komoditas yang mereka hasilkan.
Matoa diolah menjadi dodol yang kemudian dipasarkan melalui jaringan ritel. Sementara cabai dan tomat dikembangkan menjadi produk lembaran pangan atau food leather sehingga memiliki nilai tambah sekaligus daya simpan yang lebih panjang.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pendampingan tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.
“Ibu-ibu OAP memberikan testimoni, sebelum ada pelatihan dari TEP, penghasilannya sekitar Rp700.000 per bulan dari ladang berpindah. Setelah dilatih membuat dodol yang dipasarkan ke supermarket, penghasilannya naik drastis menjadi Rp2.400.000,” ujar Menteri Iftitah, Kamis (17/9).
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa potensi yang ada di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi ketika didukung keterampilan, teknologi, pengemasan, dan akses pasar.
“Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Membuka Kembali Akses Belajar
Manfaat TEP juga dirasakan di Kawasan Transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura. Di Kampung Omon Jaya, tim menemukan hampir 100 anak tidak bersekolah karena keterbatasan sarana dan transportasi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pendidikan TEP mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai pusat pembelajaran. Fungsinya tidak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi anak yang putus sekolah.
Agar tidak kembali terbengkalai setelah masa tugas TEP berakhir, pengelolaan TBM diserahkan kepada masyarakat melalui pembentukan kembali struktur kepengurusan.
“Solusi yang kami tawarkan adalah mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat berbasis inklusi sosial sebagai learning center, tidak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga anak putus sekolah,” ujar anggota TEP klaster pendidikan Universitas Bengkulu, Fendri Febrianti.
Menjawab Persoalan Sinyal dan Air Bersih
Keterbatasan jaringan telekomunikasi juga menjadi salah satu persoalan yang ditemukan TEP di Lereh. Kondisi tersebut selama ini turut menghambat pelayanan kesehatan dan pengembangan usaha masyarakat.
Tim Telekomunikasi TEP Institut Teknologi Bandung (ITB) kemudian memetakan titik-titik kendala jaringan dan menguji pemasangan penguat sinyal lokal di Puskesmas Pembantu SP4.
“Solusi yang kami usulkan adalah membangun penguat atau perluasan jaringan lokal yang bersumber dari sinyal Telkomsel di kawasan yang sulit sinyal. Pada bulan kedua, kami menguji cobanya di Puskesmas Pembantu SP4,” kata anggota Tim Telekomunikasi TEP ITB, Aldo Gusti Rahman.
Persoalan kebutuhan dasar juga menjadi perhatian. Di Lereh, pembangunan sistem distribusi air bersih dilanjutkan melalui jaringan perpipaan agar aliran air dapat menjangkau lebih dekat ke permukiman warga.
Sementara di Manokwari Selatan, limbah kotoran sapi yang sebelumnya belum dimanfaatkan mulai diolah menjadi biogas. Energi tersebut dapat digunakan untuk memasak dan mendukung kebutuhan listrik, sedangkan residunya dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Membangun Solusi yang Bisa Dilanjutkan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai keterlibatan mahasiswa dalam TEP menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga membawa energi positif dan solusi yang membumi. Siapa pun yang tergerak karena nilai patriotisme pasti berani keluar dari zona nyaman dan melakukan hal melebihi panggilan tugasnya,” ujar Menko AHY.
AHY mengatakan, hasil kerja TEP turut mendukung perubahan paradigma transmigrasi, dari yang sebelumnya identik dengan perpindahan penduduk menjadi pembangunan kawasan yang mendorong kesejahteraan masyarakat lokal dan transmigran.
“Paradigma transmigrasi kini kita ubah, dari sekadar memindahkan masyarakat menjadi memastikan mereka hidup sejahtera dengan ekonomi berskala industri,” tegasnya.
Berbagai temuan, aspirasi, dan solusi yang dikembangkan TEP selanjutnya dirangkum sebagai bahan strategis bagi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Hasil lapangan tersebut juga dibawa dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur bersama gubernur, bupati, dan wali kota se-Tanah Papua.
Kerja TEP memperlihatkan bahwa pembangunan kawasan dapat dimulai dari kebutuhan paling dekat dengan masyarakat. Ketika hasil kebun diberi nilai tambah, anak-anak kembali memiliki ruang belajar, jaringan komunikasi diperkuat, dan air bersih serta energi alternatif mulai tersedia, pembangunan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Yang tak kalah penting, solusi tersebut dirancang agar dapat diteruskan oleh masyarakat. Dengan begitu, manfaat Ekspedisi Patriot tidak berhenti ketika tim meninggalkan lokasi, tetapi dapat menjadi bagian dari kemampuan warga untuk mengembangkan kawasan mereka secara mandiri.
