Rangkaian agenda strategis Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, selama dua pekan (25 Mei-7 Juni 2026). Dok: Istimewa.
Jakarta – Dalam dua pekan terakhir, tepatnya sejak 25 Mei hingga 7 Juni 2026, irama kerja Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, tampak begitu dinamis. Tidak hanya berkutat pada penanganan darurat, Suharyanto justru memperlihatkan sisi lain dari kepemimpinan BNPB: sebuah peran yang lebih luas dalam merajut pembangunan nasional, nilai kebangsaan, hingga investasi kualitas sumber daya manusia.
Agenda intensif tersebut dibuka pada 25 Mei 2026 di Jakarta. Suharyanto memimpin langsung Rapat Koordinasi Gabungan bersama DPR RI dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatra. Di hadapan para pemangku kebijakan, ia menegaskan pentingnya rencana besar pemulihan untuk wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bukan sekadar wacana, pemerintah berkomitmen mengalokasikan anggaran mencapai Rp100,1 triliun untuk periode 2026-2028, dengan prioritas Rp38,9 triliun di tahun 2026.
Melalui prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable (BBBSS), Suharyanto memastikan bahwa rekonstruksi kali ini tidak hanya membangun kembali apa yang hancur, tetapi juga menciptakan ketahanan wilayah yang lebih kokoh bagi generasi mendatang.
Namun, di balik angka-angka besar dan proyek infrastruktur, Suharyanto memahami bahwa fondasi sebuah bangsa juga terletak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Hal itu terlihat jelas pada 27 Mei 2026, ketika ia memimpin peringatan Idul Adha 1447 H di Graha BNPB. Baginya, momentum kurban bukan sekadar ritual ibadah, melainkan penguatan solidaritas sosial di internal lembaga-sebuah semangat gotong royong yang menjadi napas bagi setiap personel BNPB saat terjun ke lapangan.
Nilai kebersamaan tersebut kemudian bermuara pada kesadaran berbangsa yang lebih dalam saat ia menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, pada 1 Juni 2026. Di tengah khidmatnya upacara yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Suharyanto merefleksikan bahwa Pancasila adalah kompas moral bagi BNPB.
Semangat gotong royong yang dipancarkan dari nilai luhur Pancasila itulah yang selama ini menjadi energi penggerak BNPB dalam menanggulangi bencana di seluruh penjuru Indonesia.
Langkah strategis Suharyanto kemudian meluas ke ranah yang lebih visioner pada 3 Juni 2026 di Bogor. Dalam forum internasional “Building Indonesia’s Future Generations through Nutrition” bersama motivator dunia Tony Robbins, Suharyanto menunjukkan sisi lain dari konsep ketangguhan.
Ia menyadari bahwa membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan menyiapkan infrastruktur penahan bencana, tetapi juga harus memastikan gizi generasi muda tetap terjaga. Kehadirannya di forum tersebut menjadi pesan kuat bahwa BNPB kini turut berperan aktif dalam memperkuat fondasi kualitas manusia Indonesia sejak dini.
Sepanjang 14 hari yang padat tersebut, Suharyanto berhasil membawa BNPB keluar dari kotak penanganan bencana konvensional. Ia menempatkan instansi yang dipimpinnya sebagai garda terdepan yang tidak hanya sigap saat musibah datang, tetapi juga tangkas dalam mendukung agenda pembangunan yang berkelanjutan.
Melalui rangkaian agenda ini, Suharyanto tidak hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi sedang meletakkan fondasi bagi Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di masa depan.
