Dok: Istimewa.
Jakarta – Dalam periode 28 Mei hingga 4 Juni 2026, Indonesia kembali menghadapi rangkaian kejadian bencana yang tersebar luas dengan karakter yang beragam di berbagai wilayah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 11 kejadian bencana yang terjadi selama satu pekan tersebut, dengan sebaran mulai dari Pulau Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga kawasan timur Indonesia.
Dari keseluruhan kejadian itu, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi jenis bencana yang paling dominan dengan total 6 kejadian. Sementara itu, cuaca ekstrem tercatat terjadi di 3 wilayah berbeda, serta masing-masing satu kejadian banjir dan tanah longsor turut menambah kompleksitas situasi kebencanaan dalam periode tersebut.
BNPB menjelaskan bahwa meskipun jumlah kejadian bencana cukup tinggi dan tersebar di berbagai daerah, tidak terdapat laporan korban jiwa, korban luka-luka, maupun orang hilang selama periode tersebut. Namun demikian, dampak terhadap masyarakat tetap cukup signifikan dan dirasakan langsung oleh warga di lokasi terdampak.
Secara kumulatif, sebanyak 1.733 jiwa terdampak bencana, dengan 10 jiwa di antaranya harus mengungsi sementara waktu ke lokasi yang lebih aman. Kondisi pengungsian ini umumnya terjadi di wilayah yang terdampak banjir, longsor, maupun kawasan yang berada dekat dengan titik kebakaran hutan dan lahan.
Selain dampak terhadap manusia, bencana juga memberikan pengaruh terhadap kondisi permukiman di sejumlah daerah. BNPB mencatat terdapat 40 rumah rusak berat, 43 rumah rusak sedang, 49 rumah rusak ringan, serta 371 rumah terdampak dalam berbagai tingkat kerusakan. Sebaran kerusakan ini menunjukkan bahwa bencana terjadi tidak hanya di satu wilayah, tetapi secara simultan di banyak lokasi dengan karakter kejadian yang berbeda-beda.
Di sisi lain, dampak ekologis juga cukup menonjol dalam periode ini. Sekitar 349,73 hektar lahan dilaporkan terdampak bencana, dengan kontribusi terbesar berasal dari kejadian Karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah rawan, terutama di Sumatra dan sebagian wilayah timur Indonesia.
BNPB menilai bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan kebencanaan yang bersifat ganda, yakni ancaman kebakaran di wilayah kering serta risiko hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di wilayah dengan curah hujan tinggi.
