Presiden Prabowo Subianto mendengarkan laporan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melalui konferensi video mengenai penanganan bencana Flores, aktivitas Gunung Anak Krakatau, dan karhutla dalam rapat terbatas, Senin (7/9/2026). Dok. Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Kabinet.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto melaporkan perkembangan penanganan bencana di sejumlah wilayah kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas (ratas), Senin (7/9/2026).
Laporan tersebut mencakup kondisi terkini pascagempa Flores, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada penerbangan, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Presiden Prabowo memimpin ratas dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video. Dalam rapat tersebut, pemerintah mengevaluasi perkembangan penanganan bencana sekaligus memastikan langkah penanganan di lapangan terus berjalan.
Aktivitas Gempa Flores Menurun
Suharyanto melaporkan kondisi kegempaan di Flores mulai menunjukkan tren penurunan setelah memasuki hari ke-24 sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026.
Sejak gempa pertama hingga 7 September, tercatat 13.156 kejadian gempa. Sementara pada pekan keempat, aktivitas kegempaan tercatat sebanyak 364 kejadian.
Meski masih terjadi gempa susulan, aktivitas tersebut tidak lagi dirasakan secara signifikan oleh masyarakat. Suharyanto memperkirakan diperlukan waktu sekitar satu bulan lagi agar aktivitas kegempaan dapat kembali menuju kondisi normal.
Dari sisi korban, tercatat 48 orang meninggal dunia akibat langsung gempa. BNPB juga mencatat 87 kematian tidak langsung di wilayah Flores, tetapi kematian tersebut tidak disebabkan oleh gempa susulan. Faktor penyakit sebelumnya, proses pengobatan, maupun sebab alamiah menjadi penyebab kematian tersebut.
Jumlah pengungsi juga terus berkurang. Dari 179.037 orang ketika Presiden Prabowo berkunjung ke Flores, kini tersisa 72.864 orang.
Masyarakat yang masih berada di pengungsian umumnya merupakan warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Pemerintah menyiapkan hunian sementara atau huntara serta dana tunggu hunian bagi mereka yang belum dapat kembali ke rumah.
Verifikasi Kerusakan Rumah Berlanjut
BNPB masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap rumah yang terdampak gempa.
Dari tujuh kabupaten/kota, pemerintah daerah melaporkan 102.384 rumah mengalami kerusakan. Hingga saat ini, sebanyak 46.117 rumah telah diverifikasi.
Suharyanto menyebut tidak seluruh rumah yang rusak dapat langsung dikategorikan dalam tiga tingkat kerusakan, yakni ringan, sedang dan berat. Karena itu, BNPB akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk menentukan penanganan terhadap rumah-rumah yang berada di luar kategori tersebut.
Pemerintah memberikan bantuan Rp15 juta bagi rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk kerusakan sedang.
Sementara rumah yang mengalami kerusakan berat akan dibangun kembali oleh pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dan/atau BNPB.
Untuk warga yang belum dapat kembali, BNPB juga membangun huntara tipe GRC. Di sisi lain, masyarakat Ngada mengajukan model huntara yang menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat.
Kehidupan Warga Mulai Pulih
Suharyanto menyampaikan pelayanan dasar di Flores secara umum telah kembali berjalan.
Rumah sakit dan puskesmas telah beroperasi. Sejumlah fasilitas kesehatan darurat, termasuk tenda kesehatan dan rumah sakit lapangan, masih disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat.
Sekolah darurat juga masih berlangsung di sejumlah wilayah. Pemerintah memberikan pendampingan psikososial dan trauma healing untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak.
Infrastruktur dasar seperti listrik, komunikasi, bahan bakar dan air bersih juga telah relatif pulih. Transportasi kembali berjalan dan jalan nasional hingga tingkat kabupaten secara umum sudah berfungsi.
Akses menuju kecamatan dan desa juga secara fungsional dapat dilalui.
Pemulihan mulai terlihat dari aktivitas masyarakat. Pasar kembali beroperasi, kegiatan keagamaan berlangsung, sementara kegiatan sosial seperti pernikahan mulai kembali digelar.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kehidupan masyarakat Flores secara bertahap mulai kembali normal.
BNPB Tetap Salurkan Logistik
Meski kondisi membaik, BNPB tetap memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Hingga saat ini sekitar 2.142 ton logistik telah dikirim ke wilayah Flores.
Pengiriman dilakukan melalui sejumlah jalur. Jalur Labuan Bajo digunakan untuk mendukung Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur dan Ngada. Sementara Maumere menjadi jalur distribusi bagi kebutuhan Sikka, Ende dan Nagekeo.
Posko Logistik Nasional di Halim juga telah dialihkan. Penerimaan bantuan selanjutnya dipusatkan di gudang logistik dan peralatan BNPB di Jatiasih, Bekasi.
BNPB memastikan perubahan lokasi tersebut tidak menghentikan distribusi bantuan. Kebutuhan masyarakat tetap dipenuhi berdasarkan laporan pemerintah kabupaten/kota dan posko di wilayah terdampak.
Seiring kondisi Flores semakin stabil, pengerahan personel pusat mulai dikurangi secara bertahap. Penanganan kemudian semakin diarahkan kepada pemerintah daerah bersama Forkopimda.
Untuk kebutuhan kontingensi, BNPB masih menyiagakan satu pesawat Cessna dan satu helikopter di Flores. Dukungan logistik dari Jakarta tetap dilakukan menggunakan dua pesawat Hercules dan Boeing, sementara dua kapal TNI AL, KRI Semarang dan KRI Teluk Penyu, mendukung distribusi melalui jalur laut.
Anak Krakatau Mulai Menurun
Selain Flores, Suharyanto menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Aktivitas erupsi dilaporkan mulai menurun. BNPB juga membandingkan aktivitas Anak Krakatau saat ini dengan erupsi pada 2018.
Berdasarkan asesmen lapangan BNPB, peluang terjadinya erupsi yang lebih besar dinilai kecil. Kendati demikian, pemantauan terus dilakukan bersama lembaga teknis yang memiliki kewenangan terhadap aktivitas gunung api.
Abu vulkanik Anak Krakatau berdampak setidaknya di empat provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung dan Sumatera Selatan.
Dampak tersebut paling terasa terhadap sektor penerbangan. Sebanyak delapan bandara terdampak dan sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik.
Pemerintah kemudian menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi sebaran abu dan mendukung pemulihan penerbangan.
BNPB menyiapkan beberapa skenario. Salah satunya menempatkan tim OMC di Pondok Cabe apabila bandara kembali beroperasi. Tim lain disiapkan di Kertajati.
Sementara pesawat OMC yang sebelumnya berada di Kalimantan digeser menuju Semarang untuk selanjutnya beroperasi dari Bandara Ahmad Yani apabila kondisi sejumlah bandara di Jawa masih belum memungkinkan.
Suharyanto memastikan dampak abu vulkanik tersebut sejauh ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Karhutla Masih Dikendalikan
Dalam ratas, BNPB juga menyampaikan perkembangan penanganan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Penanganan difokuskan pada enam provinsi dengan kawasan gambut, yakni Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.
Suharyanto menyebut luas area yang terbakar di enam provinsi tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pemerintah tetap melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.
Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dan udara, termasuk pengerahan water bombing serta operasi modifikasi cuaca.
Wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi perhatian dalam operasi tersebut. BNPB bersama TNI, Polri, pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan di lapangan.
Masuk Tahap Pemulihan
Dari keseluruhan penanganan Flores, Suharyanto menilai fase tanggap darurat secara umum berjalan baik.
Tidak terdapat tambahan korban meninggal akibat gempa susulan. Distribusi logistik masih dapat menjangkau wilayah terdampak, sementara kebutuhan dasar masyarakat relatif terpenuhi.
Warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan sedang mulai kembali ke rumah masing-masing. Aktivitas ekonomi, keagamaan dan sosial juga kembali bergerak.
Gubernur Nusa Tenggara Timur telah meminta masukan mengenai kemungkinan mengakhiri fase tanggap darurat dan memasuki tahap rehabilitasi serta rekonstruksi.
BNPB pun secara bertahap mengurangi dukungan langsung dari pusat, sembari tetap melakukan pendampingan terhadap pemerintah daerah hingga proses pemulihan dapat berjalan secara mandiri.
