Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu (dua dari kiri) bersama SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi, Ketua Umum SCAI Daryanto Witarsa, dan Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung berdiskusi dalam Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Jakarta – Kopi Indonesia tak lagi sekadar komoditas atau minuman untuk menemani aktivitas sehari-hari. Di balik secangkir kopi, tumbuh ekosistem bisnis yang melibatkan petani, roaster, barista, kedai, brand lokal hingga konsumen.
Potensi ekonomi yang semakin besar tersebut mendorong PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperkuat ekosistem kopi nasional agar pelaku usaha lokal mampu berkembang, memperluas pasar, hingga membawa brand Indonesia ke tingkat global.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, industri kopi Indonesia memiliki modal besar untuk tumbuh karena ditopang kekayaan origin, kreativitas pelaku usaha, talenta, brand lokal, serta budaya ngopi yang telah mengakar di masyarakat.
Menurut Nixon, tantangannya kini adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi.
“ICX 2026 boleh berakhir, tetapi kolaborasi kita untuk membawa kopi Indonesia naik kelas baru saja dimulai,” kata Nixon.
Pernyataan tersebut disampaikan Nixon setelah rangkaian Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 yang digelar di Surabaya, Medan, dan Jakarta resmi berakhir di Cendrawasih Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (6/9).
Rangkaian pameran tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya minat masyarakat terhadap industri kopi dan peluang ekonomi yang berada di dalamnya.
Di Surabaya, ICX mencatat lebih dari 16.500 pengunjung dengan sales volume sekitar Rp3 miliar. Di Medan, jumlah pengunjung mencapai lebih dari 7.700 orang dengan sales volume sekitar Rp1,5 miliar.
Sementara itu, ICX Jakarta hingga Sabtu (5/9) telah mencatat sekitar 20.000 pengunjung dengan sales volume mencapai Rp3,6 miliar.
Bagi BTN, angka tersebut menunjukkan bahwa kopi telah berkembang menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang mempertemukan pengalaman, komunitas, dan perdagangan.
“Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kopi telah berkembang menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang mempertemukan experience, community, dan commerce,” ujar Nixon.
BTN Perkuat Pelaku Usaha Lewat Digitalisasi
Besarnya aktivitas ekonomi dalam industri kopi membuat penguatan ekosistem menjadi semakin penting. Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan produk berkualitas, tetapi juga akses terhadap pasar, jaringan bisnis, serta sistem transaksi yang mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Di sinilah BTN melihat ruang untuk mengambil peran.
Melalui balé by BTN, perseroan mendorong pengalaman transaksi yang lebih mudah, aman, dan seamless bagi masyarakat.
Bagi BTN, digitalisasi bukan hanya mengubah transaksi konvensional menjadi transaksi digital. Teknologi juga harus memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha dengan membantu meningkatkan pengalaman konsumen, memperluas jangkauan pasar, serta membuka peluang bisnis baru.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika aktivitas ekonomi kopi berkembang dari kedai-kedai lokal menjadi bisnis dengan jaringan dan pasar yang semakin luas.
BTN pun melihat penguatan ekosistem sebagai langkah penting agar pelaku usaha kopi lokal tidak berhenti sebagai pemain di pasar domestik.
Nixon berharap semakin banyak brand kopi lokal yang mampu tumbuh menjadi brand nasional dan memiliki daya saing untuk memasuki pasar global.
Dari Komunitas Menuju Kekuatan Industri
ICX 2026 juga memperlihatkan bahwa perkembangan industri kopi tidak hanya ditentukan oleh transaksi perdagangan. Pengetahuan, kreativitas, kompetisi dan jejaring bisnis turut menjadi bagian penting dalam membangun industri yang berkelanjutan.
Pada hari terakhir ICX Jakarta, misalnya, digelar sesi Brew Talks oleh Arutala Coffee bertajuk From Roastery to Market: Building a Coffee Brand that Consumers Choose.
Sesi tersebut membahas perjalanan membangun brand kopi, mulai dari pengolahan biji hingga menjadi produk yang mampu mendapatkan kepercayaan konsumen.
Puncak acara juga diisi final Indonesia Barista Championship (IBC) Regional 1 Jakarta yang mempertemukan enam finalis setelah melewati tahapan seleksi.
Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Daryanto Witarsa mengatakan, persaingan tersebut menunjukkan semakin matangnya talenta kopi Indonesia.
“Enam finalis yang naik ke panggung hari ini sudah melalui seleksi yang ketat, dan yang kami lihat bukan cuma soal rasa, tapi bagaimana mereka bisa bercerita lewat kopi yang mereka sajikan,” ujar Daryanto.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung menambahkan, antusiasme barista muda, brand kopi lokal, hingga pengunjung menunjukkan industri kopi Indonesia terus bergerak maju.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem kopi nasional ke depan.
Bagi BTN, berakhirnya ICX 2026 bukan berarti berakhirnya peluang. Justru, koneksi yang terbentuk selama pameran diharapkan berkembang menjadi kerja sama konkret yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
Nixon pun mengajak para pelaku industri untuk menjadikan momentum ICX sebagai awal dari kolaborasi yang lebih luas.
“Jangan hanya membawa pulang kopi. Bawa pulang koneksi baru, inspirasi baru, dan kolaborasi baru. Mari kita lanjutkan apa yang sudah dimulai di ICX ini menjadi kolaborasi nyata setelah acara ini selesai,” tutur Nixon.
Dengan kekuatan komoditas, kreativitas pelaku usaha, dukungan komunitas dan pemanfaatan teknologi digital, secangkir kopi Indonesia memiliki peluang untuk menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari menggerakkan ekonomi lokal hingga membawa brand Indonesia bersaing di pasar global.
