Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait. Dok: HF.
Jakarta – Revitalisasi kawasan kumuh di Menteng Tenggulun, Jakarta Selatan, yang ditinjau Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Jumat (24/4/2026), tak hanya berfokus pada renovasi rumah tidak layak huni. Program tersebut dirancang menjadi transformasi kawasan yang menyentuh ekonomi warga, ruang sosial, hingga kualitas hidup masyarakat.
Dalam kunjungan lapangan itu, Ara menekankan bahwa penataan kawasan harus dilakukan menyeluruh, bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik.
“Kami bukan hanya renovasi rumah, tapi memberdayakan UMKM supaya naik kelas dan lingkungannya juga menjadi lebih baik,” ujar Ara.
Di lokasi, Ara melihat langsung desain penataan kawasan yang meliputi area komunal, taman bermain, jalur pedestrian, parkir tertata, toilet bersama, mural edukatif, hingga ruang terbuka hijau yang disiapkan sebagai wajah baru kampung tersebut.
Menurutnya, konsep pembangunan ini mengubah cara pandang penanganan kawasan kumuh — dari pendekatan fisik semata menjadi pembangunan ekosistem hidup warga.
Ara bahkan meminta penataan tidak melupakan ruang sosial dan kebutuhan anak-anak.
Ia menyinggung perlunya ruang bermain, sarana olahraga, taman interaksi warga, bahkan fasilitas yang mendorong tumbuhnya aktivitas produktif masyarakat.
“Jangan hanya bangun rumah, tapi pikirkan juga anak-anak main di mana, warga berkumpul di mana, usaha warga berkembang di mana,” katanya.
Salah satu fokus penting dalam program ini adalah pemberdayaan UMKM warga.
Bersama PNM dan mitra lain, warga pelaku usaha mikro akan mendapat pembinaan, mulai dari tata kelola usaha, laporan keuangan, hingga akses peningkatan kapasitas usaha.
Ara mencontohkan ada warga yang sebelumnya berjualan kecil kini didorong berkembang menjadi usaha yang lebih mapan.
Ia menilai peningkatan kualitas ekonomi warga harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hunian.
“Kalau rumahnya bagus tapi ekonominya tidak bergerak, ya tidak selesai persoalannya,” ujarnya.
Program ini juga melibatkan sekitar 50 arsitek dari IAI yang memberikan pendampingan desain secara sukarela. Kolaborasi tersebut, kata Ara, menunjukkan penataan kampung bisa dikerjakan lewat gotong royong lintas sektor.
Selain penataan horizontal, Ara turut menyinggung pemanfaatan aset negara di sekitar kawasan untuk pengembangan hunian vertikal bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Ia menyebut ada peluang pembangunan rumah susun melalui kolaborasi pemerintah dan swasta sebagai solusi kebutuhan hunian perkotaan.
“Kalau ada aset negara yang bisa dipakai untuk kepentingan rakyat, ya harus digunakan untuk rakyat,” tegasnya.
Di Menteng Tenggulun sendiri, proyek revitalisasi bukan hanya menargetkan kampung yang lebih rapi, tetapi membangun kawasan yang sehat, produktif, aman, dan berkelanjutan.
Ara menilai keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi bukti bahwa penanganan kawasan kumuh bisa dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berdampak jangka panjang.
Bila sukses, model ini disiapkan menjadi prototype penataan kawasan serupa di berbagai kota besar lain.
“Kalau ini berhasil, ini bisa jadi contoh nasional,” kata Ara.
Bagi warga Menteng Tenggulun, proyek ini bukan hanya soal rumah yang diperbaiki, tetapi harapan tentang lingkungan hidup yang berubah.
Dan bagi pemerintah, ini menjadi uji coba bagaimana kawasan kumuh tak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan ruang yang bisa ditransformasi menjadi masa depan.
