Menteri PKP Maruarar Sirait. Dok: Istimewa.
Jakarta – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait kembali menegaskan pendekatan baru penanganan kawasan kumuh di Indonesia. Bukan sekadar membedah rumah warga, tetapi membangun kawasan secara utuh berbasis kolaborasi melalui konsep Kampung Gotong Royong.
Konsep itu ditegaskan Ara saat meninjau langsung progres renovasi rumah dan revitalisasi kawasan di Menteng Tenggulun, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026). Didampingi sejumlah mitra kolaborasi, Ara mengecek desain penataan kawasan, progres renovasi rumah warga, hingga pemberdayaan pelaku UMKM yang menjadi bagian dari transformasi kampung tersebut.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 14.15 WIB, Ara langsung melihat papan besar desain penataan kawasan yang menampilkan rencana renovasi rumah, penataan boulevard sepanjang 300 meter, area komunal, taman bermain, ruang terbuka hijau, jembatan penyeberangan, hingga fasilitas umum yang disiapkan untuk warga.
Bagi Ara, proyek di Menteng Tenggulun bukan proyek renovasi biasa. Ia menyebut kawasan ini sebagai model pembangunan berbasis gotong royong yang bisa direplikasi secara nasional.
“Ini kita namakan Kampung Gotong Royong. Karena biayanya gotong royong, pengelolaannya gotong royong, dan manfaatnya untuk masyarakat secara bersama,” ujar Ara.
Sebanyak 152 rumah masuk dalam program renovasi yang ditargetkan selesai pada 15 Juli 2026. Berdasarkan laporan progres yang diterima Ara di lapangan, pekerjaan telah berjalan sekitar 11,89 persen, dengan puluhan rumah dalam proses penanganan.
Saat meninjau dua rumah yang tengah direnovasi, Ara memberi perhatian serius pada standar kualitas bangunan. Ia meminta seluruh rumah menggunakan material layak dan sehat untuk warga.
“Rumah rakyat ini atapnya jangan pakai seng atau asbes, harus pakai genteng. Saya minta genteng yang bagus, yang sehat untuk masyarakat,” tegasnya.
Tak hanya rumah tinggal, Ara juga memastikan tempat ibadah, jalan lingkungan, sistem parkir, sanitasi bersama hingga jalur pedestrian masuk dalam paket pembenahan.
“Pemukiman harus dibenahi utuh semuanya. Jangan ada yang kelewat. Rumah diperbaiki, jalan diperbaiki, tempat ibadah diperbaiki, lingkungannya juga tertata,” katanya.
Dalam paparannya, Ara menilai tantangan sesungguhnya justru bukan membangun, tetapi menjaga hasil pembangunan tetap terawat.
Ia mengingatkan warga dan seluruh pihak agar penataan kawasan disertai aturan bersama mengenai kebersihan, keamanan dan tata kelola ruang publik agar revitalisasi tidak kembali semrawut.
“Kita sering bisa membangun, tapi sering gagal mempertahankan. Justru yang paling sulit setelah ini bagaimana menjaga kawasan ini tetap baik,” ujar Ara.
Program ini digarap dengan model kolaborasi multipihak. Pemerintah menggandeng perusahaan swasta melalui dana CSR, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), perbankan, TNI Angkatan Laut, komunitas warga hingga lembaga pemberdayaan ekonomi.
Ara menyebut sekitar 50 arsitek terlibat secara sukarela dalam mendesain kawasan dan rumah warga. Sementara berbagai mitra mendukung pembangunan fisik maupun penguatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pola seperti ini menjadi contoh bagaimana pembangunan permukiman rakyat tak selalu harus bertumpu penuh pada APBN.
“Ini kolaborasi. Ada banyak pihak gotong royong. Ini model yang menurut saya bisa jadi contoh nasional,” ucapnya.
Jika proyek ini berhasil, Kementerian PKP berencana mereplikasi konsep serupa di sejumlah kota lain, termasuk Bandung dan Medan, terutama di kawasan padat perkotaan yang membutuhkan penataan menyeluruh.
“Kalau ini berhasil, kita bawa ke beberapa kota lagi di Indonesia,” katanya.
Lebih dari sekadar memperbaiki rumah, Menteng Tenggulun sedang diarahkan menjadi model penataan kawasan rakyat yang memadukan hunian sehat, ruang hidup yang tertata, serta pemberdayaan masyarakat.
Dan bagi Ara, itulah wajah baru pembangunan permukiman: bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun kehidupan.
