Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena. Dok: Istimewa.
Jakarta – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun ke-76 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di GMIT Pola Tribuana Kalabahi, Kabupaten Alor, Senin (25/5/2026).
Di tengah momentum tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat NTT.
Dengan nada yang lebih reflektif dan penuh keprihatinan, Melki mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam konflik sosial yang kerap menguras energi dan menghambat langkah pembangunan daerah. Ia menilai, NTT hanya dapat maju jika masyarakatnya bersatu dan mengedepankan semangat saling menjaga.
“Kalau damai terjaga, pembangunan berjalan baik. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk menyelesaikan konflik,” ujarnya di hadapan jemaat dan undangan yang hadir.
Ia menyoroti bahwa NTT sebagai daerah kepulauan dengan keragaman budaya, agama, dan adat istiadat, sejatinya memiliki modal sosial yang sangat kuat. Menurutnya, perbedaan tersebut bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya kehidupan bersama.
Melki bahkan menyebut Kabupaten Alor sebagai contoh nyata bagaimana masyarakat mampu hidup rukun dalam keberagaman. Di wilayah ini, interaksi antarumat beragama dan budaya berlangsung harmonis, menjadi cermin kecil dari harapan besar untuk seluruh NTT.
“Alor menunjukkan bahwa keberagaman itu indah, dan justru menjadi kekuatan ketika kita saling menghormati,” ungkapnya.
Dalam suasana yang penuh kekeluargaan itu, Melki juga mengingatkan bahwa masih banyak energi sosial masyarakat yang seharusnya dapat diarahkan untuk hal-hal produktif, seperti pendidikan, ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan. Ia menilai, pembangunan tidak akan berjalan optimal jika masyarakat terus terjebak dalam konflik horizontal.
Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari tokoh agama, pemerintah daerah, hingga masyarakat, untuk terus menjaga ruang-ruang damai di tengah kehidupan sehari-hari. Menurutnya, stabilitas sosial adalah fondasi yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan masa depan daerah.
Di sisi lain, Melki memberikan apresiasi terhadap peran gereja yang tidak hanya hadir dalam urusan spiritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia menilai gereja telah menjadi bagian penting dalam pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi umat.
“Gereja hadir ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, ketika keluarga miskin perlu dikuatkan, dan ketika bangsa membutuhkan suara nurani,” katanya.
Rangkaian HUT PGI di Alor sendiri diisi dengan berbagai kegiatan yang mencerminkan kebersamaan, mulai dari sidang gereja, seminar kelautan, pameran UMKM, hingga pertunjukan seni budaya seperti tarian lego-lego yang melibatkan masyarakat lintas agama.
Bagi Melki, kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi juga gambaran nyata bahwa harmoni sosial di NTT bukan hanya harapan, melainkan kenyataan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Ia berharap semangat yang tumbuh di Alor dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di NTT, agar persatuan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan yang lebih baik.
