Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., Dok: Istimewa.
Jakarta – Tahun 2026 bergerak dengan ritme yang tidak selalu tenang bagi berbagai wilayah Indonesia. Rangkaian bencana datang dan pergi dalam jarak waktu yang berdekatan, meninggalkan jejak kerusakan sekaligus kerja panjang pemulihan di banyak daerah.
Di tengah situasi itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., memimpin penanganan yang tidak hanya berhenti pada evakuasi, tetapi juga merangkai kembali kehidupan yang sempat terputus.
Awal tahun dibuka oleh Sumatera yang berada dalam tekanan cuaca ekstrem. Hujan yang turun tanpa jeda sejak akhir 2025 membuat sungai-sungai melampaui batasnya, tanah di perbukitan kehilangan daya ikatnya, dan jalan-jalan penghubung berubah menjadi jalur yang tak lagi bisa dilewati. Di beberapa wilayah Aceh dan Sumatera Utara, keterisolasian membuat bantuan tidak dapat lagi mengandalkan jalur darat. Dalam keadaan seperti itu, langit menjadi satu-satunya ruang yang tersisa untuk menjangkau warga.
Di Gayo Lues, Aceh, tenda-tenda pengungsian berdiri di antara sisa basah hujan dan dingin yang belum sepenuhnya reda. Di tempat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat. Bantuan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan dasar dikirim secara bertahap melalui pesawat kecil yang mendarat di medan terbatas. Setiap penerbangan bukan sekadar distribusi bantuan, tetapi juga upaya menjaga agar keterputusan tidak berubah menjadi keterasingan yang lebih dalam.
Di saat yang sama, negara menghadirkan skema Dana Tunggu Hunian (DTH) sebagai ruang jeda bagi warga yang kehilangan rumah. Sebuah bentuk perlindungan sementara, yang memberi waktu bagi masyarakat untuk tetap bertahan sambil menunggu kepastian tempat tinggal baru dibangun atau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Memasuki akhir Januari hingga Februari 2026, langit belum sepenuhnya tenang. Curah hujan yang masih tinggi mendorong perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca, sebuah ikhtiar teknis untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah yang rentan. Di udara, pesawat-pesawat kembali bergerak, kali ini bukan membawa bantuan, tetapi berusaha mengatur keseimbangan awan agar tidak seluruh beban air jatuh sekaligus ke bumi.
Di bawahnya, tanah perlahan mulai dirapikan kembali. Di Tapanuli Utara, rangka-rangka hunian sementara berdiri satu demi satu, seperti garis awal dari kehidupan yang sedang disusun ulang. Bangunan sederhana itu menjadi ruang singgah bagi mereka yang baru saja kehilangan rumah, namun masih ingin mempertahankan sesuatu yang bernama hari esok.
Di Aceh Tengah, hunian sementara mulai terisi. Di sana, kehidupan kembali menemukan bentuknya yang paling dasar: cahaya lampu di malam hari, suara dapur di pagi hari, dan langkah-langkah kecil yang mulai kembali percaya bahwa rutinitas bisa dibangun ulang meski dari awal yang rapuh.
Pada Februari 2026, Suharyanto menerima penghargaan Warga Kehormatan Basarnas di Jakarta. Di balik seremoni itu, tersimpan pengakuan atas semakin menyatunya kerja penyelamatan dan penanggulangan bencana di lapangan. Dalam banyak kejadian, garis antara pencarian, evakuasi, dan penanganan darurat memang tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling bertaut dalam satu alur kerja yang sama.
Memasuki Maret, arah penanganan mulai berubah perlahan. Dari respons cepat menuju pemulihan yang lebih panjang napasnya. Di Sumatera Barat, bantuan stimulan perbaikan rumah disalurkan kepada warga terdampak. Rumah-rumah yang rusak tidak sepenuhnya dibangun dari pusat, melainkan diperbaiki bersama masyarakat, dengan dukungan negara sebagai penguat di belakangnya. Ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di sini: rasa memiliki kembali atas ruang hidup yang sempat hilang.
Di Pasuruan, Jawa Timur, banjir kembali datang seperti bagian dari siklus yang tak asing. Namun penanganannya berjalan dengan pola yang lebih terhubung lebih cepat, lebih rapi, dan lebih siap dibanding sebelumnya. Di titik ini, pengalaman masa lalu tidak hilang, tetapi berubah menjadi bagian dari kesiapsiagaan yang lebih matang.
April membawa getaran lain. Gempa bumi di Sulawesi dan Maluku Utara kembali menguji kesiapan sistem yang telah dibangun. BNPB bergerak dengan tim reaksi cepat, melakukan asesmen, membuka akses, dan memastikan kebutuhan darurat warga dapat segera ditangani. Di saat yang sama, ruang kerja sama regional juga diperkuat melalui forum ASEAN, mengingat bahwa risiko bencana tidak pernah berhenti di batas-batas geografis.
Di sela penanganan itu, pembekalan kebencanaan bagi unsur TNI menjadi bagian dari penguatan peran lintas sektor. Penanggulangan bencana tidak lagi berdiri sebagai tugas sektoral semata, tetapi menjadi bagian dari kesiapan negara dalam menghadapi ancaman yang datang dari berbagai arah.
Memasuki Mei 2026, perhatian bergeser pada penguatan kelembagaan dan langkah-langkah strategis. Sejumlah pejabat dilantik untuk memperkuat organisasi dalam menghadapi beban kerja yang terus meningkat. Di Semarang, penanganan tanggul laut yang jebol menjadi salah satu titik penting yang membutuhkan koordinasi lintas instansi, agar dampaknya tidak meluas ke kawasan pesisir yang lebih luas.
Puncak dari seluruh rangkaian itu terjadi pada 25 Mei 2026, ketika pemerintah bersama DPR RI menyetujui anggaran pemulihan pascabencana Sumatera sebesar Rp100,1 triliun untuk periode 2026-2028. Angka itu tidak hanya merepresentasikan skala kerusakan, tetapi juga skala pemulihan yang harus dijalani dalam waktu panjang membangun kembali infrastruktur, hunian, dan denyut ekonomi yang sempat terhenti.
Sepanjang 2026, BNPB bergerak di antara dua waktu yang berjalan bersamaan: waktu darurat yang selalu mendesak, dan waktu pemulihan yang menuntut kesabaran. Di bawah kepemimpinan Suharyanto, perjalanan itu tidak hanya tentang merespons bencana yang datang, tetapi juga tentang menjaga agar kehidupan tetap memiliki kemungkinan untuk disambung kembali, meski dari titik yang paling retak sekalipun.
