Ferizal Ridwan, tokoh masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Dok: Istimewa.
Jakarta – Polemik dugaan video call sex (VCS) yang menyeret nama Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang, diminta tidak berkembang menjadi kegaduhan berkepanjangan. Tokoh masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota, Ferizal Ridwan, mengajak seluruh elemen masyarakat menahan diri, tidak mudah terprovokasi, dan menjaga suasana daerah tetap kondusif agar roda pemerintahan berjalan efektif.
Menurut Ferizal, peristiwa tersebut harus disikapi dengan kepala dingin dan tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengganggu stabilitas pemerintahan maupun merusak persatuan masyarakat. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu cepat terpancing oleh isu yang beredar, apalagi sampai memunculkan aksi-aksi yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Jangan cepat terpancing. Mari kita jaga kondusifitas, silaturahmi, dan kekompakan. Berikan kesempatan kepada bupati dan wakil bupati bekerja membuktikan visi misinya untuk Lima Puluh Kota,” ujar Ferizal, Jumat (24/4).
Ferizal menilai persoalan tersebut semestinya menjadi pelajaran bersama di tengah maraknya ancaman penipuan dan pemerasan berbasis teknologi digital. Ia menyebut kasus yang menimpa Safni harus dilihat secara proporsional, terlebih proses hukum terkait dugaan pemerasan oleh pelaku telah berjalan.
Menurutnya, fokus utama saat ini seharusnya menjaga agar persoalan tersebut tidak mengganggu pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Ia mengingatkan, kegaduhan berkepanjangan hanya akan menguras energi daerah dan berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk tujuan tertentu.
“Kita tidak sedang mencari pembenaran pribadi, tetapi mencari kebaikan bersama. Jangan sampai persoalan ini mengganggu pembangunan, perekonomian, atau merusak hubungan sosial di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ferizal juga menyoroti adanya upaya menggiring opini melalui aksi demonstrasi yang menurutnya tidak sepenuhnya merepresentasikan suara masyarakat Lima Puluh Kota. Berdasarkan informasi yang ia terima dari koordinator lapangan, peserta aksi yang digelar Jumat pagi (24/4) mayoritas bukan warga Lima Puluh Kota.
Ia menyebut dari peserta aksi, hanya dua orang yang berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota, sementara sebagian lainnya berasal dari daerah lain di Sumatera Barat bahkan luar daerah seperti Sumatera Utara, Jakarta hingga Indonesia Timur. Menurut Ferizal, demonstrasi tersebut bahkan membawa isu lain di luar persoalan yang menimpa Bupati Safni.
“Demo itu tidak mencerminkan aspirasi masyarakat Lima Puluh Kota. Banyak peserta bahkan tidak mengenal daerah ini, apalagi mengenal Pak Safni. Ini patut dilihat secara jernih agar masyarakat tidak terpancing oleh agenda-agenda tertentu,” ujarnya.
Ferizal menduga aksi tersebut ditunggangi kepentingan tertentu dan berpotensi memperkeruh suasana. Karena itu ia mengimbau masyarakat Sumatera Barat, khususnya Lima Puluh Kota, untuk menyikapi persoalan ini dengan bijak dan tidak larut dalam provokasi.
Ia juga mengajak masyarakat melihat persoalan ini sebagai bagian dari ketidaksempurnaan manusia yang perlu disikapi dengan kedewasaan, terlebih menurutnya persoalan tersebut lebih berdimensi sosial dan moral.
“Sudahlah, kita permaklumi saja. Jangan sampai persoalan ini dimanfaatkan untuk memecah belah atau mengganggu jalannya pemerintahan,” katanya.
Sebagai tokoh yang juga pernah menjadi rival politik Safni dalam Pilkada 2024, Ferizal menegaskan kontestasi politik telah selesai. Kini, seluruh elemen masyarakat perlu bersatu mendukung pemerintahan yang sah demi kepentingan daerah.
“Dalam demokrasi, setelah pemilihan selesai, yang utama adalah menjaga daerah. Siapa pun yang terpilih harus kita hormati sebagai pemimpin, bukan terus dicari-cari kesalahannya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan para tokoh masyarakat telah bertemu langsung dengan Bupati Safni bersama keluarga dan sejumlah unsur masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, kata Ferizal, bupati telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan terbuka menerima kritik serta masukan untuk membangun daerah ke depan.
Ferizal melihat langkah itu sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus upaya menyudahi polemik. Ia pun mengajak masyarakat mengambil hikmah dari kejadian tersebut, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan digital yang kini semakin marak.
“Ini menjadi pelajaran agar lebih hati-hati menghadapi perkembangan teknologi. Banyak modus pemerasan dan jebakan digital yang bisa menimpa siapa saja, apalagi pejabat publik,” katanya.
Di tengah polemik tersebut, Ferizal menekankan yang paling penting bagi masyarakat adalah memastikan pemerintahan tetap berjalan dan kepala daerah bisa menunjukkan kinerja nyata.
“Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil kerja. Selama beliau mampu membuktikan komitmennya membangun Lima Puluh Kota, masyarakat akan melihat itu sebagai hal yang utama,” pungkasnya.
