Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi. Dok: Istimewa.
Jakarta – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menghadiri pembukaan Young and Collaboration (YOUTHLAB) 2026 yang diselenggarakan oleh Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) di Kompleks Kuil Myoganji, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan YOUTHLAB 2026 merupakan penyelenggaraan tahun ketiga kemah musim panas bagi generasi muda Buddha Dharma Indonesia, yang diinisiasi oleh Pandita Utama Aiko Senosoenoto selaku Ketua Umum MNSBDI. Program ini menjadi ruang pembinaan yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan pengembangan karakter, kreativitas, serta kepemimpinan generasi muda.
Selama sembilan hari, mulai 27 Juni hingga 5 Juli 2026, sekitar 600 peserta berusia 11 hingga 28 tahun dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengasah potensi diri sekaligus memperkuat nilai kolaborasi. Para peserta dibagi dalam berbagai studio sesuai minat dan bakat, seperti musikal, tari, vokal, art and craft, spatial design, modeling, hingga kuliner.
Seluruh rangkaian pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan individu, tetapi juga menekankan pentingnya kerja sama tim melalui penyusunan proyek akhir secara kolaboratif. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang kreatif, percaya diri, dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.
Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi, menyampaikan apresiasi atas konsep pembelajaran YOUTHLAB yang dinilai mampu menghadirkan pendekatan baru dalam pendidikan agama Buddha yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda.
“Saya melihat inilah sesuatu yang sangat menarik bahwa belajar agama tidak hanya dikemas dalam hal yang sifatnya serius, tetapi untuk anak muda ini diberikan kesempatan untuk mengekspresikan nilai agama itu dalam kehidupan mereka,” ujar Supriyadi.
Ia menambahkan bahwa generasi muda membutuhkan ruang yang aman dan positif untuk berkembang tanpa meninggalkan nilai moral dan spiritual sebagai dasar kehidupan. Menurutnya, kegiatan seperti YOUTHLAB menjadi sarana penting dalam membangun kepercayaan diri dan karakter generasi muda Buddha.
“Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan. YOUTHLAB menjadi ruang untuk menemukan dan meningkatkan kepercayaan diri anak muda untuk menunjukkan diri sebagai umat Buddha yang baik,” lanjutnya.
Mengusung tema “Level Up”, YOUTHLAB 2026 mendorong peserta untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui kolaborasi. Di tengah tantangan era modern yang semakin kompetitif dan individualistis, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar bekerja sama, saling menghargai, dan mengembangkan potensi diri secara seimbang.
Lebih dari sekadar kegiatan pembinaan keagamaan, YOUTHLAB 2026 juga menjadi wadah penguatan jejaring sosial lintas daerah serta sarana bagi generasi muda Buddha untuk menemukan jati diri, mengembangkan kreativitas, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
