Dok: Istimewa.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN kembali menjajaki peluang pengembangan bisnis melalui akuisisi portofolio kredit konsumer. Kali ini, perseroan membidik portofolio kredit pensiunan dengan mempertimbangkan potensi imbal hasil yang lebih baik.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengungkapkan, perseroan telah menandatangani perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dengan sebuah bank yang identitasnya belum dapat dipublikasikan.
Penandatanganan NDA menjadi langkah awal bagi BTN untuk mempelajari portofolio kredit calon target. Melalui proses tersebut, perseroan dapat menelaah peluang yang tersedia sebelum menentukan langkah bisnis selanjutnya.
Meski demikian, penjajakan ini belum berarti akuisisi telah disepakati. BTN juga belum mengungkapkan identitas bank yang terlibat, nilai portofolio, maupun rincian aset kredit yang sedang dipelajari.
Mencari Portofolio Berkualitas
Dalam menjajaki peluang baru, BTN mempertimbangkan potensi imbal hasil sebagai salah satu faktor penting. Nixon menyampaikan bahwa perseroan mencari portofolio yang menawarkan imbal hasil lebih baik.
Pertimbangan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi sebelum keputusan akuisisi diambil. Selain melihat peluang pengembangan bisnis, kajian terhadap portofolio diperlukan untuk memahami karakteristik aset yang berpotensi masuk ke dalam bisnis perseroan.
Fokus pada kredit pensiunan juga menjadi perhatian dalam penjajakan kali ini. Namun, BTN belum memerinci kriteria portofolio yang diincar maupun besaran imbal hasil yang menjadi pertimbangan.
Menunggu Tahapan Bisnis
Nixon menjelaskan, rencana akuisisi baru perlu terlebih dahulu dimasukkan ke dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Karena itu, pelaksanaannya diarahkan pada tahun berikutnya setelah tahapan perencanaan tersebut dipenuhi.
Keterangan itu disampaikan setelah Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan” di Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai kepastian transaksi maupun jadwal penyelesaian yang dapat dipastikan. Dengan demikian, rencana tersebut masih berada dalam tahap penjajakan dan memerlukan proses lanjutan sebelum dapat diwujudkan.
Pengalaman Akuisisi Sebelumnya
BTN sebelumnya juga mengambil alih portofolio kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk. dengan nilai yang disebut mencapai Rp19,93 triliun. Transaksi terdahulu itu menjadi konteks bagi langkah perseroan dalam mempertimbangkan peluang pengembangan bisnis melalui portofolio kredit.
Meski memiliki kesamaan pada segmen kredit pensiunan, transaksi sebelumnya tidak dapat dijadikan acuan untuk memastikan nilai maupun struktur akuisisi yang kini dijajaki. Setiap peluang memiliki karakteristik dan pertimbangan tersendiri.
Bagi BTN, penjajakan terbaru ini membuka ruang untuk mengevaluasi peluang pertumbuhan bisnis secara terukur. Keputusan akhir tetap bergantung pada hasil kajian, proses perencanaan, serta perkembangan pembahasan dengan calon pihak terkait.
Dengan belum diumumkannya rincian transaksi, perkembangan yang dapat dipastikan saat ini adalah penandatanganan NDA dan dimulainya penjajakan portofolio kredit pensiunan. Informasi mengenai nilai, pihak yang terlibat, serta jadwal penyelesaian masih menunggu keterangan resmi lebih lanjut dari perseroan.
