Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon L.P. Napitupulu.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus mempercepat transformasi bisnis melalui penguatan ekosistem perumahan dan digitalisasi layanan keuangan. Strategi ini menjadi langkah perseroan untuk memperluas jangkauan pembiayaan sekaligus menghadirkan layanan finansial yang semakin terintegrasi bagi keluarga Indonesia.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, perseroan kini mengembangkan bisnis yang tidak hanya bertumpu pada pembiayaan kepemilikan rumah, tetapi juga mencakup berbagai kebutuhan keuangan nasabah dalam kehidupan sehari-hari.
Transformasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan BTN di sektor perumahan, kemudian memperluas layanan melalui kemitraan strategis dan pengembangan platform digital.
Salah satu wujudnya terlihat dari pertumbuhan Bale by BTN. Sejak diluncurkan pada Februari 2025, platform digital tersebut mencatat jumlah pengguna sebanyak 4,3 juta hingga Juni 2026, meningkat 62,4 persen secara tahunan.
Nilai transaksi Bale juga tumbuh 55,5 persen secara tahunan, dari Rp43 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp67 triliun pada Juni 2026. Pertumbuhan ini mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan layanan digital BTN untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah.
Digitalisasi Layanan
Melalui Bale, BTN mengintegrasikan berbagai layanan keuangan dan kebutuhan gaya hidup dalam satu platform. Nasabah dapat mengakses layanan pembayaran, solusi pembiayaan, hingga beragam kebutuhan lainnya, termasuk perjalanan, tiket, voucher, dan produk terkait properti.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya BTN menghadirkan pengalaman perbankan yang lebih praktis dan sesuai dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan digital.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Transformasi BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026), Nixon menjelaskan bahwa perseroan berupaya memperluas layanan finansial untuk menjawab kebutuhan keluarga pada berbagai tahap kehidupan.
Kebutuhan nasabah, menurut arah transformasi tersebut, tidak berhenti setelah memiliki rumah. Ada pula kebutuhan untuk membayar listrik dan air, membiayai pendidikan, mengakses layanan kesehatan, hingga memenuhi berbagai kewajiban rutin.
Karena itu, BTN memperluas pengembangan bisnis berbasis ekosistem dengan menggandeng pemerintah daerah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sektor pariwisata.
Perseroan telah menjalin kerja sama transaksi dengan sekitar 70 pemerintah daerah dan 70 rumah sakit umum daerah (RSUD). Kemitraan tersebut membuka ruang bagi pengembangan layanan transaksi sekaligus memperkuat pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.
“Cara jualannya tidak bisa satu-satu. Ekosistem per ekosistem,” kata Nixon, menjelaskan pendekatan BTN dalam memperluas basis nasabah dan layanan keuangan.
Memperluas Akses Rumah
Di tengah pengembangan bisnis digital, BTN tetap mempertahankan fokus utamanya dalam mendukung pembiayaan perumahan nasional, termasuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Hingga September 2026, total KPR yang telah disalurkan BTN mencapai Rp552 triliun. Pangsa pasar perseroan di sektor pembiayaan perumahan tercatat sebesar 39 persen, sementara pangsa pasar KPR subsidi mencapai 69 persen.
BTN juga mendukung penyaluran KPR subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Untuk memperluas jangkauan, perseroan bekerja sama dengan kementerian, lembaga, komunitas, dan organisasi profesi, termasuk untuk menjangkau pekerja sektor informal yang memiliki penghasilan tidak tetap.
Sepanjang Januari hingga September 2026, penyaluran program perumahan melalui kerja sama dengan kementerian dan lembaga mencapai 35.808 unit. Program tersebut menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari guru, tenaga kesehatan, awak media, buruh, pegawai BKKBN, anggota Polri, hingga masyarakat di Provinsi Maluku.
Bagi BTN, penguatan ekosistem perumahan juga mencakup dukungan pembiayaan bagi para pelaku usaha yang terlibat dalam pembangunan hunian.
Melalui Kredit Program Perumahan (KPP), perseroan menyediakan pembiayaan dari sisi pasokan (supply) dan permintaan (demand). Dari sisi pasokan, BTN bekerja sama dengan lebih dari 8.000 mitra pengembang serta membuka akses pembiayaan bagi kontraktor, pemasok, distributor, dan toko bahan bangunan.
Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, realisasi plafon KPP BTN mencapai Rp6,16 triliun dengan total penyaluran kepada 9.236 debitur. Jumlah tersebut terdiri atas Rp4,02 triliun untuk sisi pasokan dan Rp2,14 triliun untuk sisi permintaan.
Skema ini memperluas manfaat pembiayaan perumahan, tidak hanya bagi calon pemilik rumah, tetapi juga bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian dari rantai pasok pembangunan hunian.
Pertumbuhan yang Terukur
Selain memperluas layanan, BTN terus melakukan modernisasi operasional untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan. Perseroan mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta teknologi pengenalan karakter optik (optical character recognition/OCR) dalam proses perbankan.
Pada proses kredit konsumer, BTN menargetkan waktu penyelesaian atau turnaround time (TAT) menjadi lima hari. Digitalisasi proses dan pengurangan pengulangan pekerjaan akibat dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai menjadi bagian dari upaya mencapai target tersebut.
Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BTN tercatat sebesar 3 persen pada Juni 2026, kemudian turun menjadi 2,9 persen pada September 2026.
Nixon menegaskan bahwa perluasan bisnis tetap dijalankan dengan memperhatikan tata kelola dan prinsip kehati-hatian. Perseroan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan risiko kredit.
Dengan menggabungkan kekuatan pembiayaan perumahan, perluasan kemitraan, serta layanan digital, BTN berupaya membangun ekosistem keuangan yang lebih terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
Pertumbuhan pengguna Bale menjadi salah satu indikator perkembangan kanal digital perseroan. Ke depan, penguatan ekosistem diharapkan dapat memperluas akses layanan finansial sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis BTN di tengah perubahan kebutuhan nasabah.
