Dirut BTN Nixon L.P. Napitupulu (tiga kanan) dan Dirut KAI Properti Mohamad Ramdany menandatangani Perjanjian Kerja Sama Program Hunian Manggarai disaksikan Dirut KAI Bobby Rasyidin (kanan), Menteri PKP Maruarar Sirait (dua kanan) dan Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo (kiri).
Jakarta – Tinggal di tengah Jakarta dengan hunian yang terjangkau kini semakin terbuka bagi masyarakat. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN menyiapkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan tenor hingga 40 tahun untuk mendukung kepemilikan Hunian Manggarai yang dikembangkan di kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Tak hanya menawarkan tenor panjang, BTN juga menyiapkan suku bunga 6 persen yang tetap hingga lunas. Skema ini dirancang untuk memberikan kepastian cicilan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap hunian di lokasi strategis.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, penyediaan pembiayaan jangka panjang tersebut merupakan bagian dari mandat BTN dalam membantu masyarakat memiliki rumah.
“Memang mandat kita mengurus rumah rakyat. Skema KPR-nya ini kita coba yang 40 tahun dengan bunga 6 persen sampai lunas. Jadi bunganya tidak akan berubah,” ujar Nixon saat groundbreaking Hunian Manggarai di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Menurut Nixon, Hunian Manggarai memiliki keunggulan karena berada di pusat Jakarta dan terhubung dengan jaringan transportasi publik. Masyarakat tidak hanya mendapatkan hunian, tetapi juga kemudahan mobilitas untuk bekerja maupun beraktivitas.
BTN juga berkomitmen menjaga harga hunian tersebut tetap berada di bawah Rp600 juta, dengan dukungan subsidi suku bunga bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan.
“Tengah Jakarta, dekat transportasi, harga kita jagain di bawah Rp600 juta. Dapat subsidi suku bunga,” kata Nixon.
BTN Siapkan Dua Skema Pembiayaan
Untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas, BTN menyiapkan dua pilihan pembiayaan, yakni KPR FLPP dan KPR non-subsidi.
KPR FLPP ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang memenuhi ketentuan pemerintah. Sementara KPR non-subsidi disiapkan untuk masyarakat dengan segmen yang lebih luas.
BTN juga menawarkan program KPR non-subsidi dengan uang muka mulai 5 persen serta suku bunga promosi.
Kolaborasi pembiayaan tersebut diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BTN dan KAI Properti. Kerja sama mencakup pengembangan skema pembiayaan, layanan perbankan dan transaksi, pemasaran bersama, serta dukungan akses pembiayaan bagi calon konsumen.
BTN turut menyiapkan balé by BTN sebagai salah satu kanal untuk pendaftaran minat dan pembayaran Nomor Urut Pemesanan (NUP) Hunian Manggarai.
Jadi Model Hunian Baru di Tengah Kota
Hunian Manggarai dikembangkan KAI Properti di atas lahan sekitar 2,2 hektare. Proyek ini direncanakan menghadirkan 3.784 unit dalam delapan tower setinggi 24 lantai.
Konsep hunian tersebut mengintegrasikan tempat tinggal dengan transportasi publik. Model ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang membutuhkan akses cepat ke pusat aktivitas sekaligus menghadapi semakin mahalnya harga tanah di Jakarta.
Nixon mengatakan konsep hunian dekat stasiun berpotensi dikembangkan lebih luas di kawasan Jabodetabek.
“Di Jabodetabek stasiun itu banyak sekali. Kita akan mulai dari daerah-daerah stasiun kereta karena lebih mudah. Setelah itu mungkin kita akan bicara kawasan LRT dan MRT,” ujarnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait turut mengapresiasi peran BTN dalam pembiayaan rumah subsidi. Ia menilai kapasitas BTN dalam penyaluran FLPP dapat mendukung pengembangan hunian serupa di aset-aset KAI lainnya.
“Untuk FLPP juara satu, saya nggak ada lawan BTN,” ujar Maruarar.
Dengan skema KPR tenor panjang dan bunga tetap, BTN berharap semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk tinggal di hunian yang layak, terjangkau, dan dekat dengan transportasi publik.
Hunian Manggarai sekaligus menjadi langkah BTN memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi pembiayaan rumah bagi masyarakat perkotaan, sejalan dengan mandatnya untuk mengurus rumah rakyat.
