Dok: Istimewa.
Jakarta – Transformasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mulai menunjukkan hasil yang semakin nyata. Pertumbuhan laba berjalan beriringan dengan membaiknya kualitas kredit, sementara perseroan terus memperluas bisnis dari sekadar pembiayaan rumah menuju ekosistem keuangan berbasis perumahan.
Pengamat perbankan sekaligus Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto, menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi perjalanan transformasi BTN.
“Transformasi BTN sudah mulai terlihat hasilnya. Bukan hanya dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perbaikan kualitas kredit dan penguatan fundamental,” ujar Eko di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Laba Melaju, Kualitas Kredit Membaik
Pada semester I 2026, laba bersih konsolidasi BTN mencapai Rp2,40 triliun. Angka tersebut tumbuh 40,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif tersebut ditopang fundamental bisnis yang terus berkembang. Total aset BTN mencapai Rp545 triliun, sedangkan kredit dan pembiayaan berada di level Rp418 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga menembus Rp433 triliun.
Yang tak kalah penting, ekspansi tersebut diikuti perbaikan kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 2,99 persen dari sebelumnya 3,3 persen.
Cost of credit bahkan turun lebih tajam, dari 2 persen menjadi 0,7 persen.
Perbaikan tersebut menunjukkan upaya BTN menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset. Bagi Eko, kombinasi keduanya menjadi salah satu indikator penting dalam melihat keberlanjutan transformasi sebuah bank.
Dari KPR Menuju Ekosistem
Transformasi BTN juga terlihat dari perubahan cara perseroan memandang bisnis perumahan. BTN tidak meninggalkan sektor KPR yang menjadi kekuatannya, tetapi memperluasnya menjadi ekosistem yang mencakup berbagai kebutuhan finansial nasabah.
“BTN tidak meninggalkan bisnis perumahan. Justru bisnis perumahan diperluas menjadi ekosistem. Bank tidak lagi hanya melihat nasabah sebagai debitur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup,” kata Eko.
Pendekatan tersebut membuat BTN tidak hanya hadir ketika masyarakat membeli rumah, tetapi juga berupaya mengikuti kebutuhan finansial nasabah dalam berbagai fase kehidupan.
Digitalisasi menjadi salah satu penggeraknya melalui Bale by BTN. Superapp tersebut telah memiliki sekitar 4,5 juta pengguna, dengan dukungan 358 ribu merchant dan 14 ribu developer serta integrasi dengan 59 pemerintah daerah.
Volume transaksi Bale by BTN telah mencapai sekitar 2,63 miliar transaksi dengan nilai Rp134 triliun.
Ekspansi Tetap Berpijak pada Perumahan
Di tengah perluasan bisnis, BTN tetap mempertahankan peran strategisnya dalam pembiayaan perumahan nasional.
Pada semester I 2026, kredit perumahan subsidi BTN tumbuh 8,1 persen menjadi Rp196,96 triliun. Kredit Program Perumahan juga telah mencapai Rp4,1 triliun.
Sementara di luar bisnis mortgage, BTN memperluas portofolionya melalui akuisisi kredit pensiun SMBC Indonesia senilai hampir Rp20 triliun. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas layanan finansial sekaligus menjangkau kebutuhan nasabah hingga masa pensiun.
Bagi Eko, ekspansi tersebut menunjukkan bahwa transformasi BTN mulai bergerak dari sekadar perubahan produk menuju perubahan model bisnis.
Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan tetap sehat, kualitas layanan meningkat, dan ekosistem yang dibangun benar-benar memberikan nilai bagi masyarakat.
“Kalau melihat perjalanannya, arahnya sudah benar dan hasilnya mulai terlihat,” pungkas Eko.
