Menteri PKP Maruarar Sirait (dua dari kanan) bersama Shinta Maruarar Sirait (pojok kanan), Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho (kiri), dan Direktur Consumer Banking BRI Haris Hartanto (dua dari kiri) saat menghadiri acara Pesona Merdeka 2026 di M Bloc Space.
Jakarta – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait ingin program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan tidak sekadar menjadi akses pembiayaan, tetapi juga menjadi jalan bagi lahirnya lebih banyak pengusaha baru di sektor perumahan.
Pesan tersebut disampaikan Maruarar saat menghadiri Pesona Merdeka 2026 yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian PKP di M Bloc Space, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Maruarar menegaskan, kegiatan pemerintah harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, ia langsung mengecek capaian pembiayaan KUR Perumahan yang disalurkan BRI dalam rangkaian kegiatan tersebut.
“Acara itu kita menghindari seremonial terlalu banyak, tetapi konkretnya acara ini menghasilkan apa. Presiden selalu ajarkan kami, acara ini apa sih gunanya, apa sih manfaatnya,” ujar Maruarar.
Dari laporan BRI, transaksi KUR Perumahan di Jakarta selama tiga hari mencapai Rp403 miliar, dengan total 662 debitur. Sementara khusus transaksi dalam kegiatan di M Bloc Space, tercatat Rp22,5 miliar dari 37 debitur.
Bagi Maruarar, angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha di sektor perumahan cukup besar. Karena itu, ia mendorong agar penyaluran pembiayaan terus diperluas dan benar-benar dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Ingin Lahirkan Angga dan Wawan Baru
Maruarar juga menyoroti pentingnya KUR Perumahan sebagai instrumen untuk memperluas pemerataan ekonomi.
Ia mencontohkan sejumlah pengusaha yang berhasil tumbuh dari latar belakang sederhana. Salah satunya Angga, yang disebut Maruarar sebelumnya bekerja sebagai office boy, tetapi kemudian berkembang menjadi pengusaha pembangunan rumah.
Ada pula Wawan di Serang, Banten, yang menurut Maruarar merupakan anak dari seorang ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Sementara Widodo di Batang, Jawa Tengah, disebut pernah bekerja sebagai sales sebelum berkembang menjadi pengusaha perumahan.
“Jadi kita sangat senang kalau makin banyak orang-orang kaya baru di Indonesia yang lahir dari proses yang benar. Jangan orangnya itu-itu saja, supaya ada distribusi kue ekonomi di Indonesia,” kata Maruarar.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan sektor perumahan tidak hanya dilihat dari jumlah rumah yang dibangun. Lebih jauh, sektor tersebut harus mampu menciptakan kesempatan usaha, lapangan kerja, dan pengusaha baru di berbagai daerah.
“Saya berharap hari ini juga dengan melihat Angga, Wawan, Widodo, mudah-mudahan di acara ini bisa lahir Angga-Angga dan Wawan-Wawan baru,” ujarnya.
BRI Jadi Penggerak Pembiayaan
Dalam kesempatan tersebut, Maruarar memberikan apresiasi kepada BRI yang disebut menjadi salah satu bank dengan penyerapan KUR Perumahan terbesar.
Ia menekankan, kehadiran skema pembiayaan dengan bunga yang terjangkau diharapkan dapat mempersempit ruang bagi praktik rentenir.
Maruarar menyebut untuk pembiayaan tertentu bagi UMKM dengan nilai di bawah Rp100 juta, KUR Perumahan dapat diakses tanpa jaminan dengan bunga 0,5 persen per bulan.
“Harusnya tidak perlu lagi ada rentenir di Indonesia, karena 0,5 persen per bulan dan tidak perlu lagi pakai jaminan,” tegasnya.
Ia bahkan meminta BRI meningkatkan capaian pembiayaan di Jakarta. Targetnya, pada Oktober mendatang transaksi KUR Perumahan di Jakarta dapat mencapai Rp1 triliun.
“Saya yakin bisa,” kata Maruarar.
Dirasakan Langsung Pelaku Usaha
Untuk memastikan program tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, Maruarar berdialog langsung dengan sejumlah penerima pembiayaan.
Salah satunya Meiliana Ersalina, pelaku UMKM rumah kontrakan di Koja, Plumpang Semper, Jakarta Utara. Ia memperoleh pinjaman Rp250 juta dari BRI untuk merenovasi rumah kontrakannya yang memiliki 14 pintu.
Meiliana mengaku proses pembiayaan berlangsung cepat dan tidak memerlukan pungutan tambahan.
“Program Presiden Prabowo ini KUR Perumahan ada manfaatnya enggak?” tanya Maruarar.
“Sangat membantu sekali, Pak, untuk saya UMKM ini,” jawab Meiliana.
Hal serupa disampaikan Aldimas Bangkit, kontraktor rumah komersial dengan omzet sekitar Rp15 miliar hingga Rp16 miliar per tahun. Ia memperoleh pembiayaan Rp700 juta dengan proses sekitar enam hari.
Menurut Aldimas, pembiayaan tersebut membantu menjaga arus kas usaha, terutama untuk memenuhi kebutuhan material bangunan.
“Jadi kita bisa utang dulu. Kalau sekarang material itu harus cash. Makanya kebetulan karena ada BRI ini, kemarin saya bangun di Cendana Residence 2 itu alhamdulillah terbantu,” ujarnya.
Sementara Norman, pengembang perumahan di Sawangan, menyebut pembiayaan tersebut membantu pembangunan unit rumah sekaligus fasilitas di kawasan perumahan.
Maruarar pun mengingatkan agar pembiayaan pemerintah digunakan untuk kegiatan produktif dan mendorong usaha berkembang.
Tak Ingin Seremoni Tanpa Hasil
Bagi Maruarar, semangat utama Pesona Merdeka 2026 bukan hanya merayakan kemerdekaan, tetapi membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia ingin program pemerintah menghasilkan dampak yang bisa diukur, mulai dari pembiayaan usaha, pembangunan rumah, penciptaan lapangan kerja hingga lahirnya pengusaha baru.
“Jadi memang arahan Presiden Prabowo, kita tumbuhkan pengusaha-pengusaha lokal, pengusaha daerah, supaya ekonomi tidak terpusat di segelintir orang tapi terdistribusi,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Maruarar berharap KUR Perumahan dapat menjadi bagian dari ekosistem yang bukan hanya membantu masyarakat membangun rumah, tetapi juga membuka jalan bagi pelaku UMKM untuk naik kelas dan menciptakan kesejahteraan melalui usaha yang produktif.
