Wakil Ketua Komisi X DPR RI My Esti Wijayati memantau langsung kondisi sekolah terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI My Esti Wijayati memastikan keberlangsungan pendidikan menjadi perhatian penting dalam penanganan dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Esti turun langsung ke Kabupaten Manggarai untuk melihat kondisi sekolah sekaligus memastikan anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar meski sejumlah fasilitas pendidikan terdampak bencana.
Dalam pemantauan tersebut, Esti melihat aktivitas belajar siswa di sejumlah sekolah. Keterbatasan fasilitas tidak menghentikan proses pembelajaran. Sebagian kegiatan belajar bahkan dilakukan dengan memanfaatkan tenda darurat karena bangunan sekolah belum seluruhnya aman digunakan.
Bagi Esti, situasi tersebut membutuhkan respons cepat pemerintah. Apalagi, aktivitas gempa susulan masih terjadi sehingga aspek keselamatan siswa dan tenaga pendidik harus menjadi pertimbangan utama sebelum bangunan sekolah kembali digunakan.
“Kami ingin mengetahui psikologis anak, anak-anak sudah siap untuk belajar, hanya kan gedung-gedung belum siap untuk digunakan, terlebih karena masih ada gempa susulan masih terus terjadi,” ujar Esti.
Ia menilai pemulihan sektor pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan sekolah.
Pemerintah juga perlu memastikan kondisi psikologis anak-anak mendapat perhatian agar mereka dapat kembali belajar dengan rasa aman setelah menghadapi bencana.
Esti mengatakan dirinya akan mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat penanganan sekolah yang mengalami kerusakan.
Revitalisasi maupun penyediaan fasilitas pendidikan sementara dinilai perlu dilakukan agar anak-anak tidak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.
“Karena di sini sudah ada Kemendikdasmen, tentu kita akan mendesak melalui Dikdasmen, untuk segera melakukan revitalisasi ataupun sekolah-sekolah darurat. Karena kita tidak menginginkan sekolah anak-anaknya terhambat,” tegasnya.
Menurut Esti, sekolah darurat dapat menjadi solusi selama bangunan permanen masih dalam proses pemeriksaan, perbaikan, maupun pembangunan kembali.
Dengan langkah tersebut, kegiatan belajar mengajar dapat terus berlangsung tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Dampak gempa terhadap sarana pendidikan di Flores terbilang besar. Tercatat sebanyak 1.378 sekolah mengalami kerusakan, sementara 502 sekolah di antaranya masuk kategori rusak berat.
Data tersebut, kata Esti, harus menjadi dasar bagi pemerintah untuk mempercepat pemulihan.
Penanganan tidak hanya diarahkan pada pembangunan kembali fasilitas fisik, tetapi juga memastikan anak-anak terdampak tetap mendapatkan lingkungan belajar yang layak dan aman.
Pemantauan langsung ke Manggarai menjadi bagian dari fungsi pengawasan Komisi X DPR RI dalam mengawal sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana.
Esti menegaskan, kondisi darurat tidak boleh membuat anak-anak Flores kehilangan kesempatan untuk terus belajar.
