Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt. Dok: Istimewa.
Jakarta – Ada perjalanan yang tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari ruang kelas, pengalaman organisasi, perjumpaan dengan banyak masyarakat, hingga keberanian mengambil tanggung jawab ketika kesempatan datang.
Perjalanan Emanuel Melkiades Laka Lena adalah kisah tentang seorang anak daerah yang menapaki jalan panjang pengabdian, dari dunia pendidikan kesehatan, aktivisme mahasiswa, parlemen nasional, hingga akhirnya dipercaya memimpin Nusa Tenggara Timur.
Nama Melki Laka Lena mungkin belum lama menjadi perhatian publik nasional. Namun di NTT, sosok yang akrab disapa Melki ini telah lama dikenal sebagai figur yang tumbuh dari akar masyarakat daerah. Ia bukan pemimpin yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang dibentuk oleh pendidikan, organisasi, pengalaman profesional, dan kerja politik.
Kini, Melki berdiri di garis depan sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2025–2030. Setelah bertahun-tahun membawa suara masyarakat NTT dari gedung parlemen di Jakarta, ia kembali ke tanah kelahirannya dengan amanah yang lebih besar: membangun provinsi kepulauan yang memiliki potensi besar sekaligus tantangan yang kompleks.
Putra Daerah dari Tanah Ende
Emanuel Melkiades Laka Lena lahir di Oeba, Kota Lama, Kupang, pada 10 Desember 1976. Ia merupakan putra asli Nusa Tenggara Timur dengan akar keluarga yang kuat dari Kabupaten Ende.
Melki adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan Johanes Gadjo Kede dan Sofia Wangga. Masa kecilnya tidak hanya dihabiskan di satu tempat, tetapi berpindah antara Kupang, Kisol, dan Ende. Perjalanan tersebut membuatnya dekat dengan berbagai karakter masyarakat NTT.
Bagi Melki, NTT bukan sekadar wilayah geografis tempat ia dilahirkan. NTT adalah ruang yang membentuk cara berpikir dan nilai hidupnya. Dari daerah inilah ia melihat bagaimana masyarakat bertahan dengan keterbatasan, menjaga harapan, serta bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik.
Pengalaman itulah yang kemudian membangun keyakinannya bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan hanya dari perencanaan di atas kertas.
Jejak Farmasi
Sebelum dikenal sebagai politisi dan pemimpin daerah, Melki Laka Lena lebih dahulu menempuh perjalanan di dunia kesehatan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDK Don Bosco 3 Kupang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Seminari Pius XII Kisol dan SMP Katolik Ndao Ende, sebelum masuk ke Sekolah Menengah Farmasi Kupang.
Ketertarikannya pada dunia kesehatan membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Di kampus tersebut, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi sekaligus pendidikan Profesi Apoteker pada 2002.
Dunia farmasi memberikan pengaruh besar dalam membentuk karakter Melki. Seorang apoteker dituntut tidak hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki ketelitian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap manusia.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari cara Melki melihat persoalan publik. Baginya, setiap kebijakan pada akhirnya harus kembali kepada satu tujuan: memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Semasa kuliah, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Ia pernah menjadi finalis Lomba Debat Kesehatan Tingkat Nasional serta terlibat dalam karya ilmiah mengenai persoalan kesehatan masyarakat.
Aktivis Muda
Jalan pengabdian Melki tidak dimulai dari panggung politik, tetapi dari ruang gerakan mahasiswa.
Pada era Reformasi 1998, ketika bangsa Indonesia mengalami perubahan besar, Melki menjadi bagian dari generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Pengalaman sebagai aktivis membentuk keberaniannya untuk menyuarakan gagasan dan memperjuangkan perubahan. Ia meyakini bahwa persoalan masyarakat tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi membutuhkan keterlibatan nyata.
Jejak kepemimpinannya semakin terlihat ketika ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) periode 2002–2004.
Melalui organisasi tersebut, Melki membangun jaringan nasional sekaligus belajar memahami berbagai persoalan sosial dari dekat. Pengalaman itu menjadi fondasi penting sebelum ia memasuki dunia profesional dan politik.
Meniti Jalan Pengabdian Nasional
Sebelum menjadi anggota DPR RI, Melki Laka Lena lebih dahulu mengasah kemampuan melalui dunia profesional.
Ia pernah dipercaya sebagai anggota Tim Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta menjalani pengalaman sebagai konsultan energi dan manajemen.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan pembangunan, tata kelola pemerintahan, dan pengambilan keputusan strategis.
Perjalanan politik Melki tidak ditempuh secara instan. Di Partai Golkar, ia meniti berbagai jenjang organisasi hingga dipercaya menjadi Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT sejak 2017.
Sebelumnya, ia juga pernah dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar, serta aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan.
Ia juga tercatat sebagai salah satu deklarator organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat.
Pengalaman panjang di organisasi tersebut menjadi bekal ketika ia memasuki panggung politik yang lebih besar.
Suara NTT dari Kursi DPR RI
Pada Pemilu 2019, Melki Laka Lena memperoleh kepercayaan masyarakat untuk menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT II.
Di parlemen, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan kependudukan.
Posisi tersebut membuatnya memiliki ruang besar untuk memperjuangkan berbagai isu yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu catatan penting dalam kiprahnya adalah ketika ia dipercaya memimpin Panitia Kerja (Panja) RUU Kesehatan. Perjuangan tersebut kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Melalui regulasi tersebut, sistem kesehatan nasional diarahkan menuju penguatan layanan primer, peningkatan kualitas pelayanan, dan pemerataan akses kesehatan.
Bagi Melki, keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari lahirnya aturan, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya.
Membawa Perjuangan untuk Tanah Kelahiran
Sebagai wakil rakyat dari NTT, Melki membawa berbagai persoalan daerah ke tingkat nasional. Di bidang kesehatan, ia turut memperjuangkan pembangunan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Ben Mboi di Kota Kupang yang menjadi salah satu pusat rujukan kesehatan penting di kawasan timur Indonesia.
Selain itu, ia mendorong pembangunan enam Rumah Sakit Pratama, renovasi lebih dari 50 puskesmas prototipe, pembangunan fasilitas kesehatan masyarakat, serta peningkatan layanan kesehatan di berbagai wilayah NTT.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Melki memperjuangkan distribusi alat kesehatan, obat-obatan, alat pelindung diri, rapid test, serta berbagai bantuan untuk rumah sakit, puskesmas, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Perjuangannya tidak berhenti pada sektor kesehatan. Ia juga mendorong pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) skala nasional di Kota Kupang, bantuan bagi kelompok usaha, program padat karya, bantuan rumah tidak layak huni, serta Program Indonesia Pintar bagi ribuan siswa.
Ia juga memfasilitasi program Kartu Prakerja dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat bersama kementerian dan lembaga nasional.
Dari Senayan Kembali ke NTT
Setelah bertahun-tahun memperjuangkan aspirasi masyarakat NTT dari Jakarta, Melki akhirnya kembali ke tanah kelahirannya. Dalam Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur 2024, Melki maju bersama Johanis Asadoma.
Pasangan ini memperoleh 1.004.055 suara atau sekitar 37,33 persen dan berhasil memenangkan kontestasi Pilgub NTT 2024. Pelantikan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2025–2030 menjadi awal dari perjalanan baru.
Jika sebelumnya ia memperjuangkan suara masyarakat NTT melalui lembaga legislatif, kini ia memiliki kewenangan untuk menerjemahkan gagasan tersebut dalam bentuk kebijakan pemerintahan daerah.
Menjawab Tantangan Masa Depan NTT
Memimpin NTT bukanlah pekerjaan sederhana.
Sebagai provinsi kepulauan, NTT menghadapi berbagai tantangan mulai dari kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, hingga pembangunan infrastruktur.
Melki bersama Wakil Gubernur Johanis Asadoma membawa visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan sebagai arah pembangunan daerah.
Sejumlah program strategis mulai diarahkan untuk memperkuat layanan dasar masyarakat, termasuk penguatan Posyandu, percepatan penanganan stunting, peningkatan kualitas pendidikan, serta pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.
Melalui konsep One Village One Product (OVOP), setiap desa didorong memiliki produk unggulan yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
Selain itu, pengembangan NTT Mart menjadi salah satu upaya memperluas pasar produk lokal, sehingga hasil pertanian, kerajinan, dan usaha masyarakat NTT tidak hanya berhenti di tingkat lokal.
Melki juga mendorong konsep One School One Product dan One Community One Product sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Di Balik Sosok Pemimpin
Di balik jabatan sebagai gubernur, Melki Laka Lena membawa pengalaman dari berbagai dunia.
Ia adalah seorang apoteker yang terbiasa berpikir sistematis, seorang aktivis yang memahami suara masyarakat, seorang organisator yang membangun jaringan, serta seorang politisi yang memahami proses pengambilan keputusan.
Bagi Melki, pemimpin harus hadir di tengah masyarakat. Jabatan bukan sekadar ruang kekuasaan, tetapi tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi rakyat.
Jalan Panjang Seorang Pengabdi
Perjalanan Emanuel Melkiades Laka Lena adalah perjalanan seorang anak daerah yang menapaki jalan panjang menuju pengabdian.
Dari ruang pendidikan, organisasi mahasiswa, dunia profesional, parlemen nasional, hingga kini memimpin pemerintahan provinsi, setiap fase telah membentuk dirinya.
Kini, tantangan terbesar berada di depan mata: membuktikan bahwa harapan masyarakat Nusa Tenggara Timur dapat diwujudkan melalui kerja nyata.
Sebab pada akhirnya, seorang pemimpin tidak dikenang hanya karena jabatan yang pernah ia duduki, tetapi karena perubahan yang ia tinggalkan bagi masyarakat yang mempercayainya.
