H. Dedi Wahidi, S.Pd. atau "Dewa", anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2024–2029 dari Dapil Jawa Barat VIII. Dok: Istimewa.
Jakarta – Ada banyak cara seseorang mengabdikan diri untuk bangsa. Ada yang memilih jalan pelayanan melalui birokrasi, ada yang berjuang lewat dunia usaha, dan ada pula yang memulainya dari ruang sederhana bernama sekolah.
Bagi H. Dedi Wahidi, S.Pd., pengabdian pertama kali tumbuh dari sebuah ruang kelas di Kaplongan, Indramayu.
Jauh sebelum namanya dikenal sebagai politisi dan anggota DPR RI, ia adalah seorang guru yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak muda yang membawa harapan keluarga dan masa depan daerah. Dari ruang kelas itulah ia memahami bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari bagaimana membentuk manusia melalui pendidikan.
Perjalanan hidup kemudian membawanya melewati berbagai fase pengabdian. Dari seorang pendidik, ia dipercaya memimpin lembaga pendidikan, aktif dalam organisasi masyarakat, memimpin pemerintahan daerah sebagai Wakil Bupati Indramayu, hingga akhirnya membawa suara masyarakat ke tingkat nasional melalui parlemen.
Kini, masyarakat Jawa Barat VIII yang meliputi Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon lebih mengenalnya dengan sapaan “DEWA”, singkatan dari nama Dedi Wahidi.
Sapaan tersebut bukan “Dewadi”, melainkan akronim dari namanya yang tumbuh sebagai identitas kedekatan antara dirinya dengan masyarakat yang selama bertahun-tahun memberikan kepercayaan.
Selama empat periode dipercaya menjadi anggota DPR RI, Dedi Wahidi menjalani perjalanan politik yang panjang. Namun di balik perjalanan tersebut, ada satu fondasi yang tidak pernah berubah: nilai-nilai pendidikan, kedekatan dengan masyarakat, dan keyakinan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Awal dari Pendidikan
Lahir di Indramayu, Jawa Barat, pada 15 Agustus 1957, Dedi Wahidi tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang dekat dengan nilai perjuangan dan pendidikan.
Sejak kecil, ia merasakan langsung bagaimana keterbatasan akses pendidikan di wilayah pedesaan. Pada tahun 1965, ketika Dedi Wahidi menempuh pendidikan dasar, Desa Kaplongan belum memiliki sekolah dasar.
Karena kondisi tersebut, ia kemudian bersekolah di SD Negeri Tanjungsari. Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, karena sejak dini ia memahami bahwa pendidikan merupakan kunci untuk membuka kesempatan dan mengubah masa depan masyarakat.
Perjalanan tersebut kemudian membentuk pandangannya bahwa setiap anak, termasuk mereka yang berasal dari desa, harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan ke PGAN Karangampel hingga lulus pada 1974. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di Al Jamiah Al Islamiyah Al Hukumiyah (SPIAN), Ciwaringin, dan menyelesaikannya pada 1977.
Semangat untuk terus belajar tidak berhenti. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan meraih gelar Sarjana Pendidikan pada 1999.
Pilihan hidupnya kemudian membawa ia kembali kepada dunia pendidikan. Sebuah dunia yang mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kekuasaan, tetapi dapat tumbuh melalui ilmu, keteladanan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dari Guru Kaplongan Menuju Perjuangan Pendidikan
Pada 1983 hingga 1999, Dedi Wahidi dipercaya menjadi Kepala SMP Nahdlatul Ulama Kaplongan. Selanjutnya, pada 1996 hingga 2000, ia juga dipercaya memimpin SMA Nahdlatul Ulama Kaplongan.
Belasan tahun berada di lingkungan sekolah menjadi masa penting yang membentuk karakter kepemimpinannya. Ia berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pendidikan, memahami perjuangan para guru, mendengar harapan orang tua, serta melihat bagaimana sekolah menjadi jalan bagi anak-anak desa untuk meraih masa depan.
Dari ruang kelas itulah ia belajar tentang kesabaran, komunikasi, dan pentingnya hadir di tengah masyarakat.
Pengalaman masa lalu di Kaplongan juga menjadi bagian yang terus ia ingat dalam perjuangannya membangun pendidikan.
Pada tahun 1965, Kaplongan merupakan desa yang belum memiliki sekolah dasar. Namun, seiring perjalanan waktu, desa tersebut mengalami perubahan besar dan berkembang menjadi salah satu wilayah dengan ekosistem pendidikan yang lengkap.
Kini, Desa Kaplongan memiliki fasilitas pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, pendidikan menengah, hingga perguruan tinggi. Perkembangan tersebut juga diperkuat dengan keberadaan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan yang menjadi pusat pendidikan keagamaan dan mencetak generasi muda.
Pondok pesantren tersebut kini memiliki lebih dari 1.000 santri yang datang dari berbagai pelosok Indramayu, daerah sekitar, bahkan dari luar Pulau Jawa.
Perubahan Kaplongan menjadi desa dengan fasilitas pendidikan yang lengkap menjadi gambaran bahwa pendidikan mampu mengubah wajah sebuah daerah.
Menempa Diri Melalui Organisasi
Pengalaman di dunia pendidikan kemudian membawa Dedi Wahidi memasuki ruang pengabdian yang lebih luas melalui organisasi kemasyarakatan.
Bagi Dedi Wahidi, organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk memahami masyarakat secara lebih dekat. Di sana ia bertemu berbagai kelompok masyarakat, mendengar persoalan yang mereka hadapi, serta belajar menyatukan berbagai kepentingan.
Pada 1989 hingga 1994, ia dipercaya menjadi Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Indramayu.
Kemudian pada 1994 hingga 1998, ia menjabat sebagai Ketua LP Ma’arif Kabupaten Indramayu.
Perjalanan tersebut semakin memperkuat kemampuan kepemimpinannya. Ia belajar bahwa perubahan membutuhkan kebersamaan dan perjuangan masyarakat membutuhkan wadah yang mampu menyatukan suara.
Langkahnya kemudian berlanjut ke dunia politik. Pada 1998 hingga 2006, ia dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Indramayu.
Perjalanan panjang di dunia pendidikan dan organisasi tersebut menjadi bekal bagi Dedi Wahidi untuk melangkah ke ruang pengabdian yang lebih besar.
Memperluas Pengabdian Melalui Organisasi dan Politik
Perjalanan Dedi Wahidi dalam organisasi terus berkembang. Setelah memimpin DPC PKB Kabupaten Indramayu periode 1998–2006, kiprahnya semakin luas dalam membangun jaringan pengabdian di tingkat regional dan nasional.
Pada 2006 hingga 2010, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat.
Kemudian pada 2010 hingga 2012, ia dipercaya menjadi salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Setelah itu, pada 2012 hingga 2017, ia kembali dipercaya memimpin sebagai Ketua PKB Jawa Barat.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Dedi Wahidi dalam memahami dinamika masyarakat, memperjuangkan aspirasi, serta membangun komunikasi antara masyarakat dan lembaga pengambil kebijakan.
Memimpin Indramayu
Tahun 1999 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pengabdian Dedi Wahidi.
Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu. Tidak lama kemudian, masyarakat memberikan amanah yang lebih besar dengan mempercayakannya sebagai Wakil Bupati Kabupaten Indramayu periode 2000-2005, mendampingi Bupati Irianto M.S. Syafiuddin.
Menjadi pemimpin daerah membuatnya melihat langsung berbagai persoalan pembangunan dari dekat. Ia tidak hanya berbicara tentang program, tetapi melihat bagaimana sebuah kebijakan memberi dampak terhadap kehidupan masyarakat.
Indramayu sebagai daerah dengan kekuatan sektor pertanian memiliki berbagai tantangan pembangunan. Masyarakat membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik, pelayanan publik yang mudah, infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi, serta perhatian terhadap sektor yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga.
Pengalaman sebagai Wakil Bupati menjadi pelajaran berharga bahwa seorang pemimpin harus mampu memahami persoalan dari bawah, karena kebijakan yang baik lahir dari pemahaman terhadap realitas masyarakat.
Langkah Menuju Senayan
Setelah perjalanan panjang di daerah, Dedi Wahidi melanjutkan pengabdiannya melalui parlemen.
Pada Pemilu 2009, ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII.
Kepercayaan masyarakat terus berlanjut. Ia kembali terpilih pada periode 2014-2019, 2019-2024, hingga periode 2024-2029.
Empat periode berada di DPR RI menjadi perjalanan panjang dalam menjaga amanah rakyat. Bagi Dedi Wahidi, menjadi anggota parlemen bukan hanya tentang berada di ruang sidang, tetapi bagaimana membawa suara masyarakat agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.
Setiap pertemuan dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan daerah. Setiap aspirasi menjadi pengingat bahwa ada tanggung jawab besar yang melekat dalam jabatan sebagai wakil rakyat.
Mengawal Pendidikan dan Pembangunan
Perjalanan panjang Dedi Wahidi di DPR RI juga diwarnai dengan pengalaman di berbagai bidang strategis.
Pada periode 2009-2014 dan 2014-2019, ia bertugas di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pemuda, olahraga, perpustakaan, dan riset.
Bidang tersebut memiliki kedekatan dengan perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik. Pengalaman panjang di dunia sekolah menjadi bekal dalam memahami tantangan pendidikan nasional.
Kemudian pada periode 2019-2024, ia dipercaya bertugas di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur, perumahan rakyat, transportasi, dan pekerjaan umum.
Pada periode 2024-2029, ia kembali dipercaya berada di Komisi X DPR RI, membawa pengalaman panjangnya untuk terus berkontribusi dalam bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.
Bagi Dedi Wahidi, pendidikan merupakan investasi terbesar bagi masa depan bangsa. Karena itu, perjuangan menghadirkan akses pendidikan bagi masyarakat menjadi salah satu perhatian utamanya sebagai wakil rakyat.
Membuka Akses Pendidikan Bagi Masyarakat
Perhatian Dedi Wahidi terhadap pendidikan tidak hanya berhenti pada pembahasan kebijakan di parlemen, tetapi diwujudkan melalui perjuangan menghadirkan kesempatan belajar bagi masyarakat.
Salah satu yang terus dikawal adalah program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Menurut Dedi Wahidi, mahasiswa miskin harus tetap memiliki kesempatan meraih pendidikan tinggi. Melalui KIP Kuliah, mahasiswa penerima manfaat dapat menjalani pendidikan sejak masuk perguruan tinggi hingga menyelesaikan studi dan wisuda tanpa dipungut biaya.
Baginya, keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak bangsa untuk meraih cita-cita.
Selain pendidikan tinggi, ia juga memperjuangkan akses pendidikan bagi siswa tingkat dasar hingga menengah melalui Program Indonesia Pintar (PIP).
Setiap tahun, Dedi Wahidi membawa aspirasi PIP sekitar 45 ribu siswa kurang mampu yang tersebar di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon.
Program tersebut menyasar siswa mulai jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK sebagai bentuk dukungan agar anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Mewujudkan Cita-Cita “1 Rumah 1 Sarjana”
Kepedulian Dedi Wahidi terhadap pendidikan juga diwujudkan melalui gagasan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kampung halamannya.
Pada 2030, ia mencanangkan gagasan “1 Rumah 1 Sarjana” untuk Desa Kaplongan dan wilayah sekitarnya.
Gagasan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi kunci perubahan bagi keluarga dan masyarakat.
Menurutnya, satu orang sarjana dalam satu rumah dapat menjadi penggerak yang membawa perubahan, baik bagi keluarga, lingkungan, maupun daerah.
Cita-cita tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan panjangnya dalam memperjuangkan pendidikan. Dari sebuah desa yang dahulu belum memiliki sekolah dasar, kini ia ingin melihat semakin banyak generasi muda Kaplongan dan sekitarnya mampu mencapai pendidikan tinggi.
Dekat dengan Masyarakat
Di balik perjalanan panjangnya sebagai pejabat publik, ada satu hal yang terus dijaga Dedi Wahidi: hubungan dengan masyarakat.
Sapaan DEWA menjadi bagian dari kedekatan yang dibangun selama bertahun-tahun. Nama tersebut tumbuh bukan hanya melalui aktivitas politik, tetapi melalui interaksi dan komunikasi yang terus terjaga.
Ia memahami bahwa seorang wakil rakyat harus mampu mendengar sebelum berbicara. Karena dari masyarakatlah seorang pemimpin mengetahui persoalan yang sebenarnya.
Kehadiran di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari cara Dedi Wahidi menjalankan amanah. Mendengar keluhan, memahami kebutuhan, dan membawa aspirasi tersebut ke tingkat kebijakan menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Jejak Pengabdian
Perjalanan H. Dedi Wahidi, S.Pd. adalah kisah tentang konsistensi menjaga pengabdian.
Ia memulai langkah sebagai seorang guru yang menanamkan ilmu di ruang kelas. Kemudian menjadi pemimpin pendidikan, penggerak organisasi, pemimpin daerah, hingga dipercaya masyarakat selama empat periode sebagai anggota DPR RI.
Namun, benang merah dari seluruh perjalanan tersebut tetap sama: pendidikan.
Dari pengalaman pribadi sebagai anak desa yang dahulu harus bersekolah di Tanjungsari karena Kaplongan belum memiliki sekolah dasar, hingga perjuangannya membuka akses pendidikan bagi ribuan anak melalui jalur kebijakan, Dedi Wahidi terus membawa pesan bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju perubahan.
Dari Kaplongan hingga Senayan, perjalanan itu menunjukkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki makna. Sebab bagi Dedi Wahidi, jabatan bukanlah akhir dari perjalanan. Jabatan adalah amanah yang membawa tanggung jawab untuk terus bekerja, mendengar, dan memberikan manfaat.
Dan selama masih ada kepercayaan masyarakat yang diberikan, perjalanan pengabdian itu akan terus menemukan jalannya.
