Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto memperkuat operasi udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sebanyak lima helikopter water bombing disiapkan untuk memadamkan titik api yang sulit dijangkau oleh satgas darat.
Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya luasan lahan terbakar di Kalimantan Barat. Hingga Juni 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 28.680 hektare, melampaui total luasan karhutla sepanjang 2025 yang tercatat 26.703 hektare.
Suharyanto menyampaikan kebijakan tersebut saat memimpin rapat koordinasi teknis penanganan karhutla bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-Kalimantan Barat di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (6/8/2026).
Menurut Suharyanto, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan luasan kebakaran. Kalimantan Barat telah mengalami lebih dari sebulan tanpa hujan, sementara suhu udara yang tinggi membuat kondisi lahan semakin mudah terbakar.
“Sudah tidak adanya hujan lebih dari sebulan dan cuaca sangat panas, sebabkan luas lahan terbakar terus bertambah,” kata Suharyanto.
Kondisi tersebut diperkirakan belum akan segera berakhir. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca di Kalimantan Barat dalam tiga pekan ke depan berpotensi semakin panas dengan tingkat kemudahan terbakar yang tinggi.
“Menurut BMKG, cuaca di Kalimantan Barat dalam tiga minggu ke depan akan lebih panas, bahkan tingkat mudah terbakarnya cenderung tinggi,” ujarnya.
Lima Helikopter Diperkuat
Untuk merespons kondisi tersebut, BNPB memperkuat armada udara yang telah beroperasi di Kalimantan Barat. Sebelumnya, tiga helikopter water bombing telah disiagakan untuk mendukung pemadaman.
Suharyanto mengatakan dua helikopter tambahan akan dikerahkan secara bertahap. Satu unit dijadwalkan bergabung dalam waktu dekat, sementara satu unit lainnya menyusul dua hari kemudian.
Dengan penambahan tersebut, total lima helikopter water bombing akan beroperasi untuk menjangkau titik-titik api yang tidak dapat ditangani secara optimal oleh satgas darat.
“Di Kalimantan Barat semula ada tiga, besok ditambah satu, dua hari lagi ditambah satu jadi lima heli water bombing untuk padamkan api-api yang tidak bisa dijangkau satgas darat,” tutur Suharyanto.
Penguatan operasi udara menjadi pilihan utama karena kondisi atmosfer saat ini belum memungkinkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara optimal. Minimnya pertumbuhan awan hujan membuat pelaksanaan OMC belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Sedikitnya awan hujan di Kalimantan Barat, sehingga operasi modifikasi cuaca tidak bisa, maka satgas udara fokus ke water bombing,” jelasnya.
Meski demikian, BNPB tetap menyiapkan dukungan OMC. Pesawat OMC dan helikopter patroli akan tetap disiagakan sehingga dapat segera bekerja apabila pertumbuhan awan hujan mulai terbentuk.
“Ada heli patroli yang standby dan pesawat OMC, apabila ada pertumbuhan awan hujan akan bisa langsung bekerja,” ungkap Suharyanto.
Jangan Biarkan Api Membesar
Suharyanto juga meminta pemerintah daerah dan seluruh unsur yang terlibat memperkuat penanganan di lapangan. Ia menekankan agar setiap titik api segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Satgas darat akan melibatkan personel gabungan TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Manggala Agni, dan relawan. Seluruh unsur tersebut bekerja di bawah koordinasi pemerintah daerah, dengan gubernur di tingkat provinsi dan bupati/wali kota di tingkat kabupaten/kota.
“Langkah-langkah yang disepakati, satgas darat gabungan personel TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, dan relawan, di bawah koordinasi gubernur dan di setiap kabupaten kota lewat bupati untuk lakukan pemadaman,” kata Suharyanto.
Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla sangat bergantung pada kecepatan respons. Karena itu, seluruh unsur diminta tidak menunggu api membesar sebelum melakukan pemadaman.
“Kita sepakat jangan sampai menunggu api semakin besar,” tegasnya.
Dengan penguatan lima helikopter water bombing, kesiapan OMC, serta pengerahan satgas darat secara terpadu, BNPB bersama pemerintah daerah berupaya menekan eskalasi karhutla dan mencegah kebakaran meluas di Kalimantan Barat.
