Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto memberikan keterangan pers usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengungkapkan sebanyak 11 fire spot terverifikasi sebagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Dari total luasan yang terbakar lebih dari 60 hektare, sekitar 45 hektare masih dalam penanganan.
Suharyanto mengatakan, 11 fire spot tersebut ditemukan setelah BNPB bersama tim melakukan verifikasi terhadap sejumlah hotspot yang terdeteksi pada 30 Agustus 2026.
“Dalam fire spot itu ada 11. Itu melingkupi lahan ada sekurang-kurangnya 60 hektare lebih. Kemudian dilakukan pemadaman,” kata Suharyanto usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026 di Griya Agung, Palembang, Senin (31/8/2026).
Dari luasan tersebut, operasi pemadaman telah berhasil menangani sekitar 15 hektare. Sebanyak 2,5 hektare di antaranya dipadamkan menggunakan helikopter melalui operasi water bombing, sedangkan sisanya ditangani oleh satgas darat.
Dengan hasil tersebut, masih terdapat sekitar 45 hektare lahan yang menjadi fokus pemadaman BNPB bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait.
“Jadi hari ini yang masih kebakaran di Sumatera Selatan ada sekitar 45 hektare. Inilah yang sekarang kita kerjakan,” ujar Suharyanto.
Satgas Darat Diperkuat
Hasil operasi pemadaman menjadi dasar bagi pemerintah untuk meningkatkan kekuatan satgas darat. Suharyanto menyebut satgas darat terbukti menjadi kekuatan utama dalam menangani karhutla di lapangan.
Satgas tersebut akan diperkuat dengan melibatkan relawan, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, dan Polri. Operasi akan dikoordinasikan pemerintah daerah dengan dukungan Forkopimda.
“Satgas darat ini menjadi kekuatan utama untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Menurut Suharyanto, operasi udara tetap diperlukan untuk membantu menjangkau lokasi tertentu. Namun, pengalaman pemadaman terakhir menunjukkan operasi darat memberikan kontribusi lebih besar dalam pengendalian api.
Jangan Samakan Hotspot dengan Kebakaran
Suharyanto juga mengingatkan pentingnya membedakan hotspot dengan fire spot. Hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi melalui satelit dan belum otomatis menunjukkan adanya kebakaran.
Data hotspot antara lain diperoleh melalui sistem SiPongi Kementerian Kehutanan dan BMKG. Setiap titik juga memiliki tingkat kepercayaan rendah, sedang, dan tinggi.
“Hotspot itu belum tentu kebakaran di bawah. Karena kompor masak juga bisa menjadi titik panas di situ,” jelasnya.
Dari 37 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang diverifikasi menggunakan patroli, helikopter, dan drone, hanya 11 yang terkonfirmasi sebagai fire spot atau benar-benar merupakan kebakaran.
Karena itu, BNPB meminta data kebakaran disampaikan berdasarkan hasil verifikasi lapangan agar informasi yang diterima masyarakat lebih akurat.
Potensi Hujan Jadi Harapan
BNPB menargetkan kebakaran dapat dipadamkan secepat mungkin. Selain operasi darat dan udara, kondisi cuaca diharapkan membantu mempercepat proses pemadaman.
Suharyanto menyebut BMKG memprakirakan adanya potensi hujan pada 1 hingga 6 September 2026. Hujan dengan intensitas cukup deras dinilai dapat menjadi faktor penting dalam mengendalikan karhutla.
“Yang paling efektif dan efisien memadamkan api karhutla itu adalah operasi modifikasi cuaca ketika hujan itu turun dengan cukup deras,” katanya.
Operasi pemadaman akan terus dilakukan sepanjang September. Memasuki Oktober, meningkatnya curah hujan diharapkan semakin membantu mengendalikan ancaman karhutla di Sumatera Selatan.
Sementara dalam aspek penegakan hukum, Suharyanto menyampaikan bahwa hingga kini telah terdapat 29 tersangka kasus karhutla dan 17 perkara telah masuk ke proses pengadilan.
