Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin (berkemeja putih), menyampaikan langsung belasungkawa dan dukungan kepada keluarga korban terdampak insiden di Bekasi Timur sebagai bagian dari upaya pendampingan dan pemulihan. Dok: Istimewa.
Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bergerak cepat memperkuat pendampingan bagi pelanggan dan keluarga yang terdampak insiden di Stasiun Bekasi Timur. Tak sekadar penanganan darurat, KAI kini memastikan proses pemulihan berjalan menyeluruh mulai dari layanan kesehatan lanjutan, klaim biaya pengobatan, hingga dukungan trauma healing.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan korban dan keluarga tidak menghadapi situasi sulit sendirian.
“Kami menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf sebesar-besarnya. KAI hadir untuk mendengarkan, mendampingi, dan memastikan setiap kebutuhan keluarga dapat ditangani dengan baik,” ujarnya.
Sebagai garda terdepan, posko informasi di Bekasi Timur menjadi pusat koordinasi pendampingan. Melalui posko ini, pelanggan yang membutuhkan penanganan medis lanjutan difasilitasi secara menyeluruh mulai dari pendataan, verifikasi perjalanan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa proses verifikasi dilakukan berbasis data perjalanan seperti KMT atau uang elektronik, serta dilengkapi identitas dan dokumen medis.
“Dengan data yang terverifikasi, pendampingan bisa lebih tepat sasaran. Kami juga membantu proses pendaftaran hingga pelanggan mendapatkan layanan medis yang dibutuhkan,” jelasnya.
Tak hanya itu, KAI juga membuka mekanisme klaim biaya pengobatan bagi pelanggan yang telah melakukan perawatan secara mandiri. Proses reimbursement dilakukan melalui verifikasi dokumen seperti kuitansi, resume medis, hingga data rekening, dengan estimasi penyelesaian maksimal 21 hari kerja setelah berkas dinyatakan lengkap.
Langkah yang tak kalah penting, KAI turut menghadirkan layanan trauma healing bagi pelanggan dan keluarga. Layanan ini bisa diakses melalui posko maupun call center, dengan asesmen awal dilakukan secara telemedicine. Sementara bagi keluarga korban meninggal dunia, pendampingan psikologis diberikan secara langsung.
“Kami memahami pemulihan bukan hanya fisik, tapi juga mental. Karena itu, trauma healing menjadi bagian penting dari pendampingan ini,” tambah Anne.
Upaya komprehensif ini menegaskan komitmen KAI untuk tidak hanya menangani dampak insiden secara teknis, tetapi juga memastikan setiap pelanggan dan keluarga mendapatkan perhatian penuh hingga benar-benar pulih.
