Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menemui warga terdampak pengembangan SDN Tamansari 3, Selasa (8/9/2026). Dok: Pemkot Yogya.
Jakarta – Pembangunan fasilitas pendidikan membawa harapan baru bagi anak-anak. Namun, bagi Pemerintah Kota Yogyakarta, pembangunan tidak boleh membuat perhatian kepada warga yang terdampak ikut terabaikan.
Pesan itu ditunjukkan langsung Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo ketika menyambangi warga terdampak pengembangan SDN Tamansari 3, Selasa (8/9/2026).
Hasto datang untuk melihat secara langsung kondisi warga yang harus meninggalkan hunian mereka akibat rencana pengembangan fasilitas sekolah. Sebanyak empat kepala keluarga terdampak dalam proses tersebut.
Dalam kunjungan itu, Hasto menyerahkan bantuan uang tunai masing-masing Rp5 juta dan paket sembako. Namun, kehadirannya tidak semata-mata untuk menyerahkan bantuan.
Hasto ingin memastikan warga tetap mendapatkan perhatian pemerintah setelah berpindah dari tempat tinggal sebelumnya.
“Ini adalah bentuk kepedulian sosial kita, dan Pemerintah Kota Yogyakarta hadir di tengah warga,” ujar Hasto.
Bagi Hasto, pembangunan memiliki sisi yang lebih luas daripada sekadar membangun fasilitas fisik. Setiap pembangunan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehingga kondisi warga harus menjadi bagian dari perhatian pemerintah.
Salah satu warga yang ditemui Hasto adalah Sutini. Setelah meninggalkan rumah sebelumnya, Sutini kini tinggal di rumah besannya di Nyamplung Lor, Balecatur, Gamping, Kabupaten Sleman.
Saat bertemu, Hasto mengetahui bahwa Sutini sedang menghadapi persoalan kesehatan. Ia mengalami stroke ringan yang menyebabkan salah satu kakinya tidak dapat diluruskan secara sempurna.
Kondisi tersebut membuat Hasto memberikan perhatian khusus. Ia memastikan kondisi Sutini akan terus dipantau agar proses perpindahan tempat tinggal tidak membuat kebutuhan warga, khususnya yang berkaitan dengan kondisi kesehatan, terabaikan.
“Setelah saya melihat kondisi Bu Sutini, ternyata beliau terkena stroke ringan sehingga salah satu kakinya tidak bisa diluruskan. Ini akan terus kita pantau,” kata Hasto.
Perhatian tersebut menyentuh hati Sutini. Ia mengaku memahami keputusan untuk meninggalkan rumah yang sebelumnya ditempati karena mengetahui bahwa rumah tersebut berdiri di atas tanah milik Pemerintah Kota Yogyakarta.
Namun, ia tidak menyangka pemerintah tetap datang setelah dirinya berpindah tempat tinggal.
“Saya tidak menyangka pemerintah masih datang melihat kondisi saya dan memberikan bantuan. Itu sangat berarti bagi saya dan keluarga,” ungkap Sutini.
Kunjungan Hasto menunjukkan bahwa pembangunan SDN Tamansari 3 tidak hanya dipandang dari sisi peningkatan fasilitas pendidikan. Pemerintah juga berupaya memastikan proses tersebut tetap memperhatikan kondisi sosial masyarakat yang terdampak.
Bagi Pemkot Yogyakarta, kehadiran pemerintah di tengah warga menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan yang baik selama proses pembangunan. Bantuan yang diberikan juga diharapkan dapat membantu warga melewati masa transisi dengan lebih tenang.
Pengembangan SDN Tamansari 3 diharapkan dapat menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat. Di sisi lain, warga terdampak tetap mendapatkan perhatian agar pembangunan dapat berjalan secara berimbang.
Hasto menegaskan melalui kehadirannya bahwa pemerintah tidak ingin hanya hadir ketika pembangunan dimulai. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat yang berada di balik proses tersebut tetap mendapatkan perhatian.
Sebab, pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang menghadirkan bangunan baru. Lebih dari itu, pembangunan adalah tentang menghadirkan manfaat sekaligus menjaga agar masyarakat tetap merasa dihargai dan diperhatikan.
Dengan pendekatan tersebut, Hasto ingin memastikan kemajuan Kota Yogyakarta berjalan seiring dengan kepedulian kepada warganya. Sekolah dapat dibangun untuk menyiapkan masa depan anak-anak, sementara warga yang terdampak tetap dirangkul agar tidak merasa ditinggalkan.
