Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pengelolaan puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia tidak berjalan sembarangan.
Di balik masifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat sistem terintegrasi dengan pengawasan berlapis yang dirancang untuk menjaga kualitas layanan tetap optimal.
Menurut Dadan, kekuatan utama program ini terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang telah ditempa melalui proses pendidikan terstruktur sebelum diterjunkan ke lapangan.
Ia menekankan bahwa setiap personel yang terlibat bukan hanya direkrut secara selektif, tetapi juga dibekali pelatihan intensif, termasuk pendidikan di Universitas Pertahanan sebagai bagian dari Komponen Cadangan (Komcad).
“Program ini dikembangkan dengan sistem. Sebelum SPPG operasional, SDM-nya kami didik terlebih dahulu secara tersentral,” ujar Dadan dalam wawancara di Sentul, Bogor.
Setelah dinyatakan siap, para SDM ini langsung disebar ke berbagai daerah untuk mengawal proses pembangunan hingga operasional SPPG. Setiap unit yang telah lolos verifikasi juga didukung pendanaan berbasis virtual account, memungkinkan operasional berjalan cepat dan transparan.
Tak hanya itu, Dadan mengungkapkan adanya sistem komando harian dari pusat ke daerah. Skema ini memastikan setiap instruksi dapat dieksekusi secara cepat dan terkoordinasi, sehingga potensi kendala di lapangan bisa segera diatasi.
“Kami memiliki basis komando yang instruksinya bisa diberikan setiap hari dari pusat langsung ke daerah,” tegasnya.
Komposisi kepemimpinan di BGN yang melibatkan unsur purnawirawan TNI/Polri serta profesional sipil juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga disiplin dan efektivitas koordinasi program di lapangan.
Di sisi lain, Dadan tidak menampik adanya tantangan dalam pelaksanaan program berskala nasional ini. Namun, ia memastikan setiap permasalahan ditangani melalui mekanisme evaluasi ketat.
SPPG yang bermasalah akan dihentikan sementara operasionalnya untuk kemudian dianalisis dan diinvestigasi secara menyeluruh.
Hasilnya, pendekatan tersebut justru membawa dampak positif.
Unit yang sebelumnya mengalami kendala terbukti mampu melakukan perbaikan signifikan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Setelah kami hentikan sementara, kami analisis dan berikan rekomendasi. Hasilnya, mereka justru jauh lebih baik,” jelas Dadan.
Dengan sistem yang terus diperkuat, BGN optimistis program MBG akan semakin solid dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat dengan kualitas layanan yang tetap terjaga.
