Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., Dok: Istimewa.
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat budaya kesiapsiagaan masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana di Jawa Timur, salah satu provinsi dengan tingkat kejadian bencana yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam upaya memperluas penguatan Destana, BNPB menggandeng Kemitraan Australia-Indonesia melalui program SIAP SIAGA. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat desa agar lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana sekaligus meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Komitmen itu ditegaskan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat menghadiri forum diskusi bersama perwakilan pemerintah kabupaten/kota serta pelaku Destana di Kota Malang, Rabu (5/8). Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik dari desa-desa yang telah berhasil membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Dalam arahannya, Suharyanto menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Menurutnya, keberhasilan program Destana perlu terus dipelihara, diperkuat, dan diperluas hingga menjangkau desa-desa lainnya.
“Forum Destana dan Forum Pengurangan Risiko Bencana juga perlu dimaksimalkan karena pencegahan menjadi aspek yang sangat penting dalam penanggulangan bencana secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ketika bencana telah terjadi, dampak yang harus ditanggung masyarakat jauh lebih besar, mulai dari korban jiwa hingga kerugian ekonomi dan kerusakan infrastruktur. Karena itu, investasi pada kesiapsiagaan menjadi langkah paling efektif untuk melindungi masyarakat.
Destana sendiri merupakan desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan mengenali ancaman, beradaptasi terhadap risiko, serta mampu melakukan respons dan pemulihan secara mandiri ketika bencana terjadi.
Suharyanto menilai keberhasilan Destana bukan sekadar konsep di atas kertas. Program tersebut telah terbukti menyelamatkan banyak nyawa dalam berbagai kejadian bencana.
Ia mencontohkan peristiwa pada 2024 ketika seorang kepala kampung yang telah mendapatkan pelatihan mampu membaca tanda-tanda awal banjir melalui perubahan kondisi aliran sungai. Berbekal pengetahuan tersebut, warga segera dievakuasi sebelum banjir menerjang permukiman. Meski rumah-rumah rusak, seluruh warga berhasil selamat.
Keberhasilan serupa juga terjadi pada bencana hidrometeorologi basah di Kawasan Malalo, Pulau Sumatra, pada 2025. Berkat kesiapsiagaan masyarakat melalui Destana, seluruh warga berhasil dievakuasi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
“Tahun 2025 di Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, juga terjadi hal yang baik. Ini salah satu bentuk pengurangan risiko bencana melalui Destana yang benar-benar berfungsi,” kata Suharyanto.
Forum tersebut juga menghadirkan diskusi bersama para pelaku Destana yang berhasil bangkit pascabencana. Mereka membagikan pengalaman membangun kembali kehidupan masyarakat sekaligus mengembangkan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari proses pemulihan.
Destana Dorong Mitigasi Sekaligus Penguatan Ekonomi
Rangkaian kunjungan kerja Kepala BNPB di Jawa Timur berlanjut ke Kota Batu. Di wilayah ini, Suharyanto meninjau penguatan Destana yang dijalankan melalui kolaborasi dengan United Tractors di Desa Giripurno, kawasan yang sebelumnya terdampak banjir bandang dan kebakaran hutan di Gunung Arjuno.
Salah satu program unggulannya adalah penanaman pohon alpukat di kawasan lereng. Selain memiliki akar yang kuat untuk membantu mengikat tanah dan mengurangi potensi longsor maupun banjir bandang saat hujan deras, tanaman tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Penanaman vegetasi pohon alpukat dapat membantu mencengkeram tanah ketika curah hujan tinggi,” ujar Suharyanto.
Menurutnya, manfaat pohon alpukat tidak berhenti pada aspek mitigasi bencana. Hasil panennya dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sehingga ketangguhan desa juga dibangun melalui peningkatan kesejahteraan ekonomi.
Kegiatan diakhiri dengan penanaman pohon alpukat di lereng Gunung Arjuno yang dilakukan bersama Pemerintah Kota Batu, unsur Forkopimda, dan masyarakat setempat.
BPBD Diminta Waspada Ancaman El Nino
Pada kesempatan yang sama, Suharyanto juga mengingatkan seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jawa Timur agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Ia mengingatkan pengalaman pada 2023 ketika kebakaran melanda sejumlah kawasan seperti Gunung Bromo, Gunung Arjuno, Gunung Lawu, hingga tempat pembuangan akhir sampah.
“Saat ini Gunung Bromo sedang mengalami kebakaran. Beberapa waktu lalu tempat pembuangan sampah di Mojokerto juga terbakar hingga membutuhkan helikopter water bombing untuk pemadaman,” ungkapnya.
Suharyanto berharap seluruh BPBD, relawan, serta masyarakat terus memperkuat budaya kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi, saat masa tanggap darurat, maupun pada tahap pemulihan.
“Bagi daerah yang sudah memiliki Destana, tunjukkan bahwa program ini benar-benar bermanfaat. Berikan keyakinan kepada masyarakat lain bahwa meningkatkan kesiapsiagaan bukanlah hal yang sia-sia, melainkan ikhtiar untuk menyelamatkan kita semua ketika bencana datang,” tegasnya.
Selain memperkuat kapasitas masyarakat, BNPB juga menyerahkan dukungan peralatan dan logistik untuk menghadapi ancaman kekeringan di Kota Batu, berupa satu unit mobil pikap, paket sembako, toren air, serta flexible tank yang diterima langsung oleh Wali Kota Batu.
