Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dok: Istimewa.
Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Berbekal capaian ekonomi yang tetap solid pada awal 2026, berbagai kebijakan strategis mulai dari stimulus fiskal, penguatan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga perluasan kerja sama perdagangan disiapkan untuk mengakselerasi target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen, melampaui proyeksi sejumlah lembaga internasional dan berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN.
Menurut Airlangga, capaian tersebut ditopang oleh inflasi yang tetap terkendali, kuatnya permintaan domestik, surplus neraca perdagangan, aktivitas manufaktur yang masih ekspansif, serta cadangan devisa yang berada pada level tinggi. Kondisi itu menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus menjaga optimisme di tengah dinamika ekonomi global.
“Perekonomian Indonesia sudah dalam track yang positif. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pada semester II-2026 Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun,” ujar Airlangga.
Paket stimulus tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi. Program yang disiapkan meliputi bantuan pangan, dukungan stabilisasi harga dan pasokan pangan bagi pelaku usaha tahu dan tempe, diskon transportasi, serta berbagai insentif yang mendorong konsumsi masyarakat selama masa libur sekolah hingga Natal dan Tahun Baru.
Selain memperkuat konsumsi domestik, Pemerintah juga berfokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program magang nasional yang dimulai pada Juli 2026, penguatan pendidikan vokasi, serta program reskilling bagi sekitar 220 ribu lulusan sekolah menengah kejuruan agar lebih siap memasuki dunia kerja.
Di sektor investasi, Pemerintah terus memperluas diplomasi ekonomi melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional, pengembangan financial center di Bali, serta percepatan proyek energi hijau. Airlangga menilai kondisi global saat ini justru membuka peluang bagi dunia usaha untuk melakukan ekspansi karena harga barang modal menjadi lebih kompetitif.
“Dalam situasi seperti ini biasanya capital goods menjadi relatif lebih murah. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Jadi bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi, ini waktu yang sangat tepat,” katanya.
Optimisme serupa disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai secara bertahap melalui penguatan ekspor, peningkatan investasi, produktivitas nasional, serta sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.
Pemerintah juga memperkuat pembiayaan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), termasuk menyediakan pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah eksportir dengan bunga maksimal 6 persen per tahun, bahkan dapat mencapai 4 persen untuk sektor tertentu guna mendorong pertumbuhan.
“Ketika global gonjang-ganjing saja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen. Ini menunjukkan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan,” ujar Purbaya.
Sementara itu, Esther Sri Astuti menilai peluang mencapai target pertumbuhan ekonomi akan semakin besar apabila pemerintah terus mengoptimalkan sektor-sektor strategis seperti industri pengolahan dan hilirisasi, ekonomi hijau dan ekonomi biru, ekonomi digital, serta pariwisata dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, Esther mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan struktur pertumbuhan agar tidak terlalu bergantung pada konsumsi rumah tangga. Menurutnya, penguatan investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja produktif harus terus menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi nasional semakin berkualitas dan berkelanjutan.
Dengan kombinasi stimulus ekonomi, perluasan investasi, penguatan sumber daya manusia, serta sinergi kebijakan lintas sektor, Pemerintah optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membawa Indonesia melangkah lebih cepat menuju target pertumbuhan 8 persen.
