Menteri PKP Maruarar Sirait berbincang hangat dengan Halimah, calon penerima Program Bedah Rumah di Menteng, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, Maruarar mendengarkan langsung cerita dan kondisi keseharian Halimah.
Jakarta – Di sebuah rumah sederhana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Halimah (74) menjalani hari-harinya dengan segala keterbatasan. Tumpukan barang yang dikumpulkannya memenuhi sebagian ruang, sementara atap rumah yang kerap bocor membuat hujan menjadi sesuatu yang tak selalu bisa ia sambut dengan tenang.
Ketika hujan turun, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung itu terkadang harus mencari tempat lain untuk berteduh. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling aman justru belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan.
Di rumah itulah Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait datang pada Sabtu (12/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari peninjauan calon penerima Program Bedah Rumah di kawasan Menteng.
Bagi Halimah, kedatangan Maruarar membawa lebih dari sekadar rencana memperbaiki bangunan. Ada harapan agar tempat yang selama ini menjadi ruang hidupnya dapat kembali menjadi rumah yang layak dan aman.
Halimah tinggal bersama dua anggota keluarganya di rumah milik orang tuanya. Berdasarkan hasil verifikasi, sejumlah bagian bangunan membutuhkan perbaikan. Pondasi, sloof, kolom, ring balok hingga rangka atap dinilai tidak kokoh. Rumah tersebut juga belum memiliki fasilitas sanitasi.
Di tengah kondisi itu, Halimah tetap menjalani kesehariannya. Dengan penghasilan sekitar Rp30.000 per hari, ia berjalan kaki mencari botol dan barang bekas dari kawasan Menteng hingga Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Namun hari itu, ada kabar lain yang membuat kunjungan tersebut terasa berbeda. Selain mendapatkan bantuan melalui Program Bedah Rumah, Halimah juga mendapat bantuan untuk mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah umrah dari Maruarar.
Bantuan umrah tersebut diberikan menggunakan uang pribadi Maruarar, terpisah dari anggaran Program Bedah Rumah maupun APBN.
Kisah Halimah menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah program pemerintah diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata. Di balik angka ribuan rumah yang diperbaiki, terdapat warga dengan cerita dan harapan masing-masing.
Maruarar mengatakan Program Bedah Rumah merupakan salah satu upaya pemerintah membantu masyarakat mendapatkan hunian yang lebih layak. Cakupan program terus diperluas dengan dukungan anggaran dari APBN.
“Program Bedah Rumah ini anggarannya dari APBN. Tahun 2025 ada 45.000 rumah yang diperbaiki di seluruh Indonesia. Tahun 2026 ada 400.000 rumah yang diperbaiki,” ujar Maruarar.
Di Jakarta, jumlah rumah yang diperbaiki meningkat tajam. Pada 2025 tercatat 158 unit rumah diperbaiki, sementara pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 10.300 unit. Sebanyak 970 unit di antaranya telah lolos verifikasi sebagai penerima bantuan.
Di Jakarta Pusat, peningkatan juga terlihat signifikan. Dari 10 unit rumah yang diperbaiki pada 2025, jumlahnya meningkat menjadi 2.000 unit pada 2026.
Khusus di kawasan Menteng, sebanyak 373 unit rumah telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan. Sebanyak 37 unit telah lolos verifikasi dan siap memasuki tahap pengerjaan.
Pengerjaan Program Bedah Rumah di kawasan Menteng dijadwalkan dimulai pada 25 September 2026 dan ditargetkan rampung pada 10 Desember 2026.
Perluasan program juga dibarengi dengan penyederhanaan persyaratan. Kementerian PKP mengubah ketentuan agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat lebih mudah mengakses bantuan, dengan tetap menjaga ketepatan sasaran.
Dalam ketentuan terbaru, rumah yang menjadi objek bantuan harus merupakan satu-satunya rumah milik penerima dan telah ditempati sekurang-kurangnya satu tahun dalam kondisi tidak layak huni.
Persyaratan mengenai tingkat kerusakan juga disederhanakan. Jika sebelumnya calon penerima harus memenuhi tiga kriteria kerusakan, kini cukup memenuhi satu kriteria kerusakan yang telah ditetapkan.
Selain Halimah, Maruarar juga menemui Isah yang telah menempati rumahnya sejak 1972. Rumah tersebut kini dihuni lima anggota keluarga dan membutuhkan perbaikan, termasuk karena sebagian besar dinding mengalami keretakan.
Maruarar meminta sosialisasi Program Bedah Rumah terus diperluas agar masyarakat yang memenuhi persyaratan mengetahui dan dapat mengakses bantuan pemerintah.
Pada akhirnya, Bedah Rumah bukan semata tentang mengganti atap, memperkuat dinding, atau memperbaiki bagian bangunan yang rapuh. Bagi warga seperti Halimah, rumah yang layak berarti tempat untuk pulang tanpa rasa cemas ketika hujan datang.
Dan di rumah sederhana yang selama ini menjadi saksi perjuangannya, sebuah harapan baru kini tumbuh: rumah yang lebih layak untuk ditinggali dan kesempatan untuk melangkah menuju Tanah Suci.
