Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait.
Jakarta – Kredit Program Perumahan (KPP) tidak hanya ditujukan untuk membantu masyarakat memiliki hunian.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mendorong KPP turut menjadi akses pembiayaan bagi pelaku UMKM agar usahanya berkembang dan naik kelas.
Hal itu disampaikan Maruarar saat menghadiri Sosialisasi Kredit Program Perumahan (KPP) dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat BNI di Graha Jalapuspita, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data BNI, terdapat potensi pembiayaan KPP sebesar Rp225,5 miliar dari 418 calon debitur. Sebanyak 401 calon debitur merupakan UMKM dengan potensi plafon Rp151,7 miliar.
Sementara dari sisi supply perumahan terdapat 17 calon debitur dengan total plafon Rp73,8 miliar, terdiri atas developer, kontraktor, dan toko bangunan.
Maruarar menilai sektor perumahan memiliki ekosistem usaha yang luas. Karena itu, pembiayaan KPP diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh rumah, tetapi juga menggerakkan usaha yang berada di sekitar sektor perumahan.
“Kita harus naik kelas. Kita harus bangga kalau orang miskin jadi menengah, menengah jadi atas. Tapi dengan cara yang benar, bukan korupsi,” kata Maruarar.
Dalam kegiatan tersebut, Maruarar berdialog langsung dengan peserta mengenai besaran pembiayaan, suku bunga, proses pengajuan hingga memastikan tidak adanya pungutan di luar ketentuan.
Ia juga mengingatkan pentingnya literasi keuangan bagi UMKM agar pembiayaan digunakan secara produktif dan sesuai kebutuhan usaha.
Selain soal pembiayaan, Maruarar memberikan edukasi mengenai akses rumah subsidi melalui layanan Sikumbang. Masyarakat dapat mencari informasi rumah berdasarkan lokasi dan pilihan hunian yang tersedia.
Maruarar berharap BNI terus meningkatkan penyaluran KPP hingga akhir tahun. Ia bahkan menargetkan BNI mampu menjadi salah satu bank dengan penyerapan KPP terbaik.
“Saya percaya BNI bisa ke depan lebih maju lagi dan lebih baik lagi. BNI juga membuat sejarah sebagai bank yang penyerapan KPP-nya paling tinggi, bukan paling rendah,” pungkasnya.
