Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, S.H., S.Sos., M.Si., Dok: Istimewa.
Jakarta – Pemulihan Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa bumi magnitudo 7,7 mendapat perhatian dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Lembaga tersebut mengapresiasi langkah cepat Pertamina dalam mengembalikan layanan energi di sejumlah wilayah terdampak.
Ketua BPKN Mufti Mubarok menilai ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG memiliki peran strategis dalam situasi pascabencana. Energi dibutuhkan untuk memastikan berbagai aktivitas penanganan bencana hingga kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan.
Menurut Mufti, pemulihan layanan energi memiliki dampak berantai. Ketika SPBU kembali beroperasi, kendaraan pengangkut bantuan, ambulans, kendaraan logistik, hingga alat berat dapat kembali bergerak untuk mendukung proses pemulihan.
“Energi adalah kebutuhan dasar, sehingga menjaga BBM dan LPG tetap tersedia sama pentingnya dengan bantuan kemanusiaan,” kata Mufti.
Ia menilai tantangan distribusi energi di NTT perlu mendapat perhatian khusus mengingat karakter wilayah tersebut yang terdiri atas banyak pulau. Dalam kondisi bencana, gangguan transportasi dan akses distribusi dapat memperbesar dampak terhadap masyarakat.
Karena itu, Mufti memandang pemulihan SPBU sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas masyarakat, bukan semata-mata pemulihan layanan komersial.
“Memulihkan pasokan energi pada dasarnya adalah bagian dari memulihkan kehidupan,” ujarnya.
Sementara itu, Pertamina menyatakan sebagian besar SPBU di wilayah Flores telah kembali beroperasi. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan pemulihan layanan lainnya dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Selain menjaga pasokan energi, Pertamina juga menjalankan respons kemanusiaan melalui program Pertamina Peduli. Hingga 25 Agustus 2026, nilai bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp1,717 miliar.
Bantuan tersebut antara lain berupa paket sembako, makanan siap santap, mi instan, telur, dan air mineral untuk masyarakat terdampak.
Respons di lapangan turut diperkuat dengan pengerahan 289 relawan. Sebanyak 220 relawan mendukung operasional distribusi dari FT Reo, FT Maumere, dan FT Ende. Kemudian 58 relawan terlibat dalam penyaluran bantuan dan pengelolaan posko, sedangkan 11 lainnya bertugas sebagai relawan medis.
Pertamina juga menyiapkan bantuan lanjutan senilai Rp877,34 juta. Bantuan tersebut diarahkan untuk kebutuhan kesehatan, perlengkapan, sembako, makanan siap saji, serta air bersih.
Bagi BPKN, keberlanjutan pasokan energi menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat terdampak bencana tetap memperoleh akses terhadap kebutuhan dasar. Apalagi, proses pemulihan tidak berhenti ketika kondisi darurat berakhir, tetapi berlanjut hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal.
Mufti berharap koordinasi dan distribusi energi di wilayah terdampak terus dijaga selama proses pemulihan berlangsung. Menurutnya, semakin cepat kebutuhan energi kembali tersedia, semakin besar pula ruang bagi masyarakat untuk bangkit dan memulihkan aktivitas mereka.
Dengan demikian, respons terhadap bencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat bantuan tiba, tetapi juga dari seberapa cepat layanan dasar yang menopang kehidupan masyarakat dapat kembali berfungsi.
