Jakarta – Upaya memperkuat tata kelola sampah laut di kawasan Indo-Pasifik semakin mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. The Habibie Center (THC) bersama Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis dalam lokakarya internasional bertajuk “Indonesia–Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific” yang digelar di Hotel Mercure Batavia, Jakarta Barat, Kamis, 6 November 2025.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola sampah laut yang berkelanjutan. Ia menyebut kerja sama antara Indonesia dan Taiwan sebagai kebutuhan mendesak mengingat besarnya tantangan pengelolaan limbah plastik di laut yang kini telah menjadi isu global.
“Kerja sama multipihak, khususnya antara Indonesia dan Taiwan, menjadi kebutuhan mendesak untuk mengatasi permasalahan global ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Lee Shan Ying, Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC Taiwan, menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Menurutnya, pendidikan dan kebiasaan memilah sampah sejak dini di sekolah-sekolah Taiwan telah melahirkan berbagai inovasi komunitas yang efektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menilai, kolaborasi antara inovasi komunitas Taiwan dan semangat daur ulang masyarakat Indonesia dapat memperkuat upaya bersama dalam mitigasi sampah laut di kawasan Indo-Pasifik.
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Konsultan THC, Prof. Muhammad Reza Cordova, menilai bahwa target pengurangan 41,68 persen sampah dari darat ke laut yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 masih belum menunjukkan hasil signifikan. Ia menekankan pentingnya perubahan sistemik yang melibatkan seluruh rantai pengelolaan sampah, mulai dari hulu hingga hilir, agar kebijakan nasional lebih efektif.
Dua peneliti internasional, Michikazu Kojima dari Jepang dan Kim Cyrus M. Miranda dari Filipina, turut memberikan pandangan bahwa setiap negara di kawasan perlu menyesuaikan strategi pengelolaan sampah laut dengan konteks lokal. Mereka menekankan perlunya peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan lokalisasi inovasi agar kebijakan yang dijalankan lebih tepat sasaran.
Sementara itu, Cheer Chen dan Yu Ting Tseng dari Azure Alliance Taiwan memperkenalkan teknologi ramah lingkungan berupa kapal pemungut sampah tanpa awak yang dapat beroperasi otomatis di badan air. Teknologi ini dinilai mampu membantu upaya mitigasi sampah laut secara efisien tanpa menambah emisi karbon.
Kolaborasi antara Indonesia dan Taiwan ini diharapkan menjadi langkah konkret menuju tata kelola laut yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Melalui sinergi antara inovasi, kebijakan, dan partisipasi publik, kedua pihak optimistis kawasan Indo-Pasifik dapat menjadi contoh global dalam pengelolaan sampah laut terpadu.
