Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto meninjau progres pengerjaan rumah hunian tetap. Dok: Istimewa.
Jakarta – Pemerintah tengah mendorong peningkatan kualitas pembangunan Hunian Tetap (Huntap) in situ bagi korban bencana hidrometeorologi Siklon Senyar di Kabupaten Aceh Tamiang dengan mengusulkan kenaikan bantuan dari Rp60 juta menjadi hingga Rp80 juta per unit.
Kenaikan ini dipertimbangkan setelah hasil peninjauan lapangan menunjukkan bahwa besaran anggaran saat ini dinilai belum memadai, terutama akibat tingginya harga material bangunan serta biaya distribusi logistik di wilayah terdampak.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menyampaikan bahwa penyesuaian anggaran diperlukan agar kualitas rumah yang dibangun dapat lebih layak dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto usai meninjau progres pembangunan Huntap di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, serta di Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, pada Senin (22/6).
Menurutnya, opsi kenaikan bantuan kini masih dalam tahap pembahasan pemerintah pusat melalui rapat tingkat menteri yang dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kementerian Koordinator PMK).
“Apabila disetujui, baik menjadi Rp65 juta, Rp70 juta, maupun Rp80 juta per unit, kualitas rumah yang dibangun tentu akan semakin baik dan lebih memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Suharyanto.
Program Huntap in situ merupakan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi BNPB bagi warga yang rumahnya rusak berat akibat bencana. Rumah dibangun kembali di atas lahan milik warga dengan tipe bangunan seluas 36 meter persegi, terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta ruang keluarga atau ruang tamu.
Konstruksi rumah menggunakan pondasi permanen, dinding bata plester, rangka baja ringan, dan atap spandek. Saat ini, pembangunan masih terus berjalan secara bertahap di berbagai wilayah terdampak di Aceh dan sekitarnya.
Suharyanto menambahkan, hingga kini BNPB telah menerima usulan pembangunan sekitar 15.000 unit Huntap in situ dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 hingga 900 unit telah dibangun, dan hampir 400 unit di antaranya telah selesai.
“Begitu rumah selesai dibangun, langsung diserahkan kepada masyarakat agar bisa segera ditempati. Ini proses yang berjalan bertahap,” katanya.
Selain meninjau pembangunan Huntap, Kepala BNPB juga menyerahkan bantuan logistik berupa sembako kepada warga terdampak di lokasi Kualasimpang dan Peureulak Barat.
Salah satu penerima manfaat, Nurbayti (64), warga Desa Sriwijaya, mengaku bersyukur rumahnya telah dibangun kembali setelah rusak akibat banjir. Ia berharap dapat segera menempati rumah barunya setelah beberapa bulan tinggal di hunian sementara.
Hal serupa disampaikan Muhammad Fuad (35), warga Peureulak Barat. Ia mengapresiasi bantuan pemerintah yang dinilainya sangat membantu proses pemulihan pascabencana dan berharap rumah barunya dapat segera dihuni bersama keluarga.
“Alhamdulillah, rumah ini lebih bagus dan lebih nyaman dibanding sebelumnya. Setelah Huntara, kami akan segera pindah ke Huntap ini,” ujarnya.
