Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., memastikan penanganan darurat pascagempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah berjalan optimal.
Kepastian itu disampaikan saat melakukan kunjungan kerja dan peninjauan langsung ke sejumlah wilayah terdampak di Kabupaten Sigi, Jumat (19/6).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah pusat dalam mendampingi pemerintah daerah menghadapi situasi darurat sekaligus memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik. Dalam kesempatan itu, Suharyanto juga menyampaikan pesan duka cita dari Presiden Prabowo Subianto kepada masyarakat Sulawesi Tengah yang terdampak bencana.
“Kami ke sini ingin memastikan penanganan darurat pascagempa bumi berjalan optimal serta kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Suharyanto.
Dalam agenda kunjungan tersebut, Kepala BNPB memimpin rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Sigi, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, BPBD Kabupaten Sigi, unsur TNI-Polri, serta Forkopimda di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki.
Rapat membahas perkembangan situasi terkini, percepatan pendataan kerusakan dan kerugian, kebutuhan penanganan darurat, hingga langkah-langkah pemulihan yang harus segera dilakukan untuk membantu masyarakat terdampak.
Suharyanto mengapresiasi respons cepat pemerintah daerah dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana. Menurutnya, pada hari keempat pascagempa, berbagai kebutuhan dasar masyarakat telah mulai terpenuhi, termasuk pendirian tenda-tenda pengungsian yang berada dekat dengan permukiman warga.
“Dari hasil rapat koordinasi tadi, pada hari keempat setelah terjadi bencana, alhamdulillah sangat cepat penanganannya. Sudah terbangun tenda-tenda yang dibangun dekat dengan rumah warga sebagai antisipasi apabila ada gempa susulan,” katanya.
Selain memastikan penanganan pengungsi berjalan baik, BNPB juga memberikan perhatian terhadap potensi ancaman bencana susulan. Hasil pemantauan pemerintah daerah menggunakan drone menemukan sedikitnya 24 titik longsoran di kawasan perbukitan, dengan empat titik di antaranya mengalami penyumbatan material yang berpotensi menahan aliran air.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu banjir bandang apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Untuk itu, BNPB bersama pemerintah daerah sepakat melakukan langkah mitigasi cepat dengan membuka sumbatan menggunakan pompa alkon guna memperlancar aliran air.
“Akibat hujan airnya tertahan, dikhawatirkan apabila curah hujan semakin tinggi akan berpotensi terjadi banjir bandang. Tadi sudah sepakat akan dijebol dengan menggunakan pompa alkon pada bagian yang tersumbat,” jelas Suharyanto.
Usai rapat koordinasi, Kepala BNPB meninjau sejumlah lokasi terdampak di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki. Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi rumah warga, fasilitas umum, serta tempat ibadah yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Dalam dialog bersama masyarakat, Suharyanto mendengarkan berbagai aspirasi dan kebutuhan mendesak warga. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah penyediaan tempat ibadah sementara bagi masyarakat yang gereja maupun masjidnya mengalami kerusakan.
BNPB pun memastikan akan segera membangun fasilitas ibadah sementara agar aktivitas keagamaan masyarakat tetap dapat berjalan selama masa tanggap darurat.
Selain melakukan pendampingan dan koordinasi di lapangan, BNPB juga menyalurkan berbagai bantuan logistik untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak. Bantuan tersebut meliputi tenda pengungsi, tenda keluarga, paket sembako, matras, selimut, kasur lipat, perlengkapan anak-anak, hingga tenda untuk tempat ibadah sementara.
Sementara itu, bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa, pemerintah telah menyiapkan bantuan stimulan sesuai tingkat kerusakan bangunan.
Bantuan sebesar Rp15 juta diberikan untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rumah rusak berat. Khusus bagi pemilik rumah rusak berat, BNPB juga menyiapkan Dana Tunggu Hunian (DTH) yang dapat dimanfaatkan selama proses pembangunan hunian tetap berlangsung.
Berdasarkan data sementara BPBD dan hasil kaji cepat di lapangan, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat gempa yang terjadi pada 16 Juni 2026. Tercatat tiga orang meninggal dunia, sementara ratusan warga masih bertahan di pengungsian karena khawatir terhadap gempa susulan.
Hingga saat ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah masih menetapkan status tanggap darurat yang berlaku hingga 23 Juni 2026. BNPB menegaskan akan terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat hingga seluruh proses penanganan darurat berjalan optimal serta tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dilaksanakan.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan, dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi, rasa aman masyarakat segera pulih, dan proses pemulihan pascabencana dapat berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan.
