Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Dr. Suharyanto saat memberikan kuliah umum kepada Pasis Dikreg LXVII di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto, menegaskan bahwa inovasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam membangun Indonesia yang tangguh menghadapi bencana.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum kepada Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVII di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung, Rabu (1/4).
Sebanyak 282 pasis yang berasal dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Polri, serta perwakilan negara sahabat mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Dalam paparannya, Suharyanto menekankan bahwa para peserta didik merupakan calon pemimpin strategis yang akan berada di garis depan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah masing-masing.
โPara Pasis di sini nantinya akan menjadi pemimpin. Karena itu, kapasitas, kepemimpinan, serta kemampuan membangun sinergi harus terus diperkuat,โ ujar Suharyanto.
Ia menjelaskan bahwa BNPB saat ini terus memperkuat sistem penanggulangan bencana secara komprehensif, mencakup seluruh siklus bencana mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan perlindungan maksimal kepada masyarakat sekaligus menjaga stabilitas dan ketahanan nasional.
Salah satu terobosan penting yang tengah dikembangkan adalah penerapan teknologi dalam mitigasi bencana melalui Multi Hazard Early Warning System (MHEWS). Sistem ini memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time melalui integrasi sensor, sirine, serta dashboard digital yang dapat diakses lintas instansi.
Implementasi sistem tersebut telah dilakukan di sejumlah wilayah rawan bencana seperti Bekasi dan Banda Aceh, khususnya untuk pemantauan banjir. Dengan sistem ini, tinggi muka air, curah hujan, hingga kondisi lapangan dapat dipantau secara terintegrasi, sehingga peringatan dini dapat diberikan secara bertahap sebelum proses evakuasi dilakukan.
Meski demikian, Suharyanto mengingatkan bahwa keberhasilan teknologi sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam merespons informasi yang diberikan. Oleh karena itu, BNPB terus mendorong peningkatan literasi kebencanaan melalui edukasi publik dan simulasi evakuasi secara berkala.
Menurutnya, kombinasi antara teknologi yang andal dan masyarakat yang siap siaga akan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia yang tangguh terhadap bencana.
