Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd. Dok: Kompas.
Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mendorong pembangunan sumber daya manusia Indonesia dimulai sejak fase paling awal kehidupan.
Melalui program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita non-PAUD atau MBG 3B, pemerintah memperkuat intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Bagi Wihaji, membangun generasi berkualitas tidak cukup dilakukan ketika anak sudah memasuki usia sekolah. Fondasi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak justru mulai dibentuk sejak masa kehamilan.
“Kalau ingin memperbaiki negara, mulailah dari hulunya, yaitu keluarga. Ketika keluarga kuat, bangsa juga akan semakin kuat,” ujar Wihaji.
Menurut Wihaji, keluarga merupakan titik awal pembangunan bangsa. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga dan pembangunan kependudukan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing.
Intervensi Dimulai dari 1.000 Hari Pertama
MBG 3B diarahkan untuk memastikan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita mendapatkan asupan gizi yang memadai. Fokus tersebut berkaitan erat dengan periode 1.000 HPK, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada fase ini, pertumbuhan otak, fisik, serta kemampuan kognitif anak berkembang secara pesat. Karena itu, pemenuhan gizi sejak awal dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah stunting dan membangun kualitas manusia Indonesia.
Berdasarkan Pendataan Keluarga 2025 (PK25), masih terdapat 8.124.442 keluarga berisiko stunting yang membutuhkan intervensi.
Wihaji menegaskan, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pemberian makanan. Faktor lain seperti sanitasi, akses air bersih, pernikahan usia dini, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan juga harus ditangani.
MBG 3B Diperkuat Pendampingan Keluarga
Untuk memastikan program memberikan dampak lebih luas, pemerintah melibatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Sebanyak 599.614 personel yang tergabung dalam 200.175 TPK dilibatkan dalam pelaksanaan pendampingan.
Mereka terdiri atas kader pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK), kader keluarga berencana (KB), serta kader posyandu.
Peran mereka bukan sekadar mendistribusikan paket MBG. Para pendamping juga memberikan edukasi mengenai kehamilan sehat, pemberian ASI, pemenuhan gizi anak balita, hingga pentingnya pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.
Dengan pola tersebut, Wihaji ingin MBG 3B menjadi lebih dari sekadar program pemberian makanan. Program ini diharapkan mendorong perubahan perilaku dan memperkuat kemampuan keluarga dalam menjaga kesehatan ibu serta anak.
Mengejar Pemerataan hingga Wilayah 3T
Pemerintah juga menghadapi tantangan dalam memperluas layanan MBG 3B ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kondisi geografis dan jumlah penduduk yang tersebar membuat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah daerah tidak selalu mudah dilakukan.
Kemendukbangga/BKKBN bersama Badan Gizi Nasional (BGN) pun menyiapkan inovasi pelayanan, termasuk pengembangan dapur berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat setempat.
Konsep tersebut diharapkan dapat menyesuaikan pelayanan dengan kondisi sosial, budaya, dan geografis masing-masing wilayah, termasuk masyarakat adat seperti Baduy.
Selain jangkauan, kualitas pelayanan menjadi perhatian. Pemerintah menekankan ketepatan sasaran penerima, kesesuaian menu dengan kebutuhan gizi, serta ketepatan waktu distribusi.
Saat ini, Wihaji menyebut terdapat 9,9 juta penerima manfaat MBG 3B.
Bagi Wihaji, investasi pada 1.000 HPK pada akhirnya merupakan investasi untuk masa depan Indonesia. Semakin kuat fondasi anak sejak awal kehidupan, semakin besar peluang Indonesia memiliki generasi yang sehat, produktif, dan kompetitif.
“Ujung dari kependudukan ini adalah stabilitas demografi,” kata Wihaji.
Melalui MBG 3B, pemerintah berupaya memastikan pembangunan manusia dimulai dari tempat paling mendasar: keluarga. Dari sana, fondasi generasi emas Indonesia diharapkan tumbuh lebih kuat menuju 2045.
