Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (11/8/2026).
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., menggabungkan kekuatan operasi darat dan udara untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Strategi tersebut diarahkan untuk menjawab tantangan medan yang ekstrem sekaligus mempercepat pengendalian titik api. BNPB menargetkan seluruh titik api di kawasan Bromo dapat dituntaskan paling lambat Jumat (14/8/2026).
Dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla TNBTS di Probolinggo, Selasa (11/8/2026), Suharyanto menekankan pentingnya memperkuat pasukan darat dengan peralatan yang sesuai dengan kondisi medan.
Seluruh sarana dan prasarana yang tersedia di gudang BPBD diminta segera dimobilisasi. APD, pompa portabel dan peralatan pendukung lainnya harus dipastikan tersedia bagi personel gabungan yang bekerja di lokasi.
“Penggunaan cara-cara tradisional seperti gepyok harus kita tinggalkan. Kita dukung penuh pasukan darat dari TNI dan tim gabungan dengan perlengkapan modern, APD, serta pompa portabel agar proses pemadaman berjalan efisien dan aman,” tegas Suharyanto.
Sementara dari udara, BNPB menyiagakan tiga unit helikopter water bombing. Armada ini menjadi tumpuan untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi pasukan darat akibat kondisi lereng yang curam, dengan kemiringan mencapai sekitar 80 derajat.
Pada Selasa (11/8), operasi water bombing difokuskan pada satu titik kebakaran di Pusung Duwur, wilayah Dingklik. Selain menjatuhkan air ke titik api, helikopter juga digunakan untuk membasahi area yang sebelumnya terbakar.
Untuk memperkuat strategi tersebut, BNPB menyiapkan flexible tank berkapasitas enam ton di sejumlah titik di sepanjang jalur darat utama. Kantong air akan diisi secara berkala menggunakan helikopter sehingga pasukan darat memiliki sumber air yang lebih dekat dengan lokasi operasi.
Keterbatasan sumber air memang menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla Bromo. Karena itu, penyediaan sumber air di sepanjang jalur operasi menjadi bagian penting dari strategi percepatan pemadaman.
“Kita manfaatkan cuaca cerah dan optimalkan pemadaman udara (water bombing) sampai sore hari. Kita patok target, paling lambat Jumat seluruh titik api sudah padam,” ujar Suharyanto.
BNPB saat ini belum dapat melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai di sekitar kawasan TNBTS. Untuk sementara, operasi pemadaman mengoptimalkan kondisi cuaca cerah melalui water bombing.
Selain fokus pada Bromo, Suharyanto meminta pemerintah daerah dan satuan tugas penanganan karhutla di Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran di kawasan gunung lainnya, termasuk Gunung Arjuno.
Kewaspadaan juga diperkuat terhadap potensi kebakaran di TPA, terutama di wilayah perkotaan. Pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan sumber air melalui pemetaan sumur bor baru, pengisian kolam penampungan air masyarakat, serta kesiapan armada tangki air.
Berdasarkan kaji cepat BNPB, luas area yang terbakar di kawasan TNBTS mencapai sekitar 889 hektare. BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, pengelola TNBTS dan unsur terkait terus mengoptimalkan operasi hingga seluruh titik api dapat dikendalikan.
