Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membatasi usia maksimal relawan. Bahkan, kalangan lanjut usia (lansia) tetap diperbolehkan ikut terlibat selama dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan tugas di lapangan.
Pernyataan itu disampaikan Dadan untuk menjawab antusiasme masyarakat yang ingin bergabung mendukung program strategis nasional tersebut. Menurutnya, BGN justru ingin membuka ruang partisipasi seluas-luasnya agar masyarakat bisa ikut berkontribusi dalam upaya pemenuhan gizi nasional.
“Tidak ada batas usia maksimum selama relawan dalam kondisi sehat dan mampu bekerja,” kata Dadan di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Program MBG sendiri menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Karena cakupannya luas dan menjangkau berbagai daerah, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar pelaksanaan program berjalan efektif.
Dadan menjelaskan, relawan memiliki peran strategis dalam mendukung operasional MBG di lapangan. Mulai dari membantu distribusi makanan bergizi, mendukung proses pelayanan, hingga memastikan kegiatan berjalan tertib dan tepat sasaran.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program tersebut. Karena itu, BGN tidak ingin membatasi kontribusi masyarakat hanya karena faktor usia.
“Semangatnya adalah membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi dalam mendukung keberhasilan program MBG,” ujarnya.
Meski tidak membatasi usia maksimal, BGN tetap menetapkan syarat usia minimal bagi relawan. Ketentuan tersebut diberlakukan untuk memastikan relawan memiliki kesiapan fisik dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas di lapangan.
“Untuk menjadi relawan, syarat usia minimal tetap 18 tahun,” tegas Dadan.
BGN menilai keterlibatan masyarakat dalam program MBG bukan sekadar membantu pemerintah, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian sosial dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya.
Selain itu, pelibatan relawan dari berbagai kelompok usia juga dinilai dapat memperkuat ekosistem pelaksanaan program yang inklusif dan kolaboratif. Pengalaman, kedisiplinan, hingga kepedulian sosial para relawan disebut menjadi modal penting dalam mendukung keberhasilan MBG di berbagai wilayah Indonesia.
Dadan menambahkan, BGN akan terus mendorong pelaksanaan program yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat daerah, sekaligus memastikan prinsip akuntabilitas dan kebermanfaatan tetap menjadi prioritas utama.
Dengan dukungan relawan dari berbagai latar belakang, program MBG diharapkan mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat serta mempercepat upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi nasional secara merata.
