Dok: Istimewa.
Jakarta – Umat Buddha di Kabupaten Temanggung memijarkan semangat kerukunan dengan ambil bagian dalam program Rumah Ibadah Ramah Pemudik. Melalui kegiatan sosial yang digelar di Vihara Dharma Surya Kaloran, mereka menghadirkan layanan kemanusiaan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik Idul Fitri 1447 H/2026.
Pada Kamis (19/3/2026), Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung bersama penyuluh agama Buddha, elemen pemuda Buddhis, pengurus vihara, serta umat, menggelar aksi pembagian takjil bagi para pemudik dan pengguna jalan yang melintas. Kegiatan ini menjadi simbol kuat kebersamaan lintas iman di tengah momentum mudik Lebaran.
Program tersebut juga melibatkan sejumlah vihara di wilayah Temanggung sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam menghadirkan rumah ibadah yang ramah, aman, dan nyaman sebagai tempat singgah bagi masyarakat luas selama arus mudik berlangsung.
Tak hanya berbagi takjil, umat Buddha juga menyediakan ruang istirahat bagi pemudik yang membutuhkan tempat untuk melepas lelah. Kehadiran vihara sebagai titik singgah ini menjadi wujud nyata pelayanan publik berbasis nilai welas asih, yang dapat dirasakan oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang agama.
Penyuluh Agama Buddha, Weni, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni pada 18 dan 19 Maret 2026. Bersama Pemuda Theravada Indonesia (Patria) dan elemen pemuda Buddhis lainnya, layanan dibuka selama 24 jam sejak hari pertama untuk memastikan para pemudik mendapatkan fasilitas yang optimal.
Menurut Weni, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak pemudik, termasuk yang non-Buddhis, memanfaatkan fasilitas yang disediakan. โSebagian besar yang mampir adalah non-Buddhis. Mereka merasa senang karena vihara di pinggir jalan dapat dimanfaatkan sebagai tempat singgah,โ ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha terus mendorong optimalisasi fungsi rumah ibadah tidak hanya sebagai pusat kegiatan spiritual, tetapi juga sebagai ruang pelayanan sosial yang inklusif dan humanis. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat semangat moderasi beragama serta mempererat kerukunan antarumat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
