Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang. Dok: Istimewa.
Jakarta – Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menandai dimulainya babak baru dalam penguatan program gizi nasional. Di tengah besarnya tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia, pemerintah menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru untuk memastikan berbagai program pemenuhan gizi berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Badan Gizi Nasional saat ini memegang peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional, terutama melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan, menekan angka stunting, dan menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Di bawah kepemimpinan Nanik, BGN mulai mengarahkan fokus pada penguatan kualitas layanan dan efektivitas program. Langkah tersebut diwujudkan melalui evaluasi berbagai mekanisme pelayanan gizi, penataan distribusi layanan, serta penguatan pengawasan untuk memastikan setiap program benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Salah satu fokus utama yang kini diperkuat adalah kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau yang dikenal dengan kelompok 3B. Kelompok ini menjadi prioritas karena berada pada fase paling krusial dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Pemenuhan gizi yang baik sejak masa kehamilan hingga usia dini diyakini menjadi kunci untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Selain itu, BGN juga mendorong pemerataan layanan hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Melalui pendekatan yang lebih adaptif, fasilitas yang telah tersedia di daerah seperti kantin sekolah, dapur komunitas, dan sarana lokal lainnya didorong untuk menjadi bagian dari sistem pelayanan gizi nasional. Strategi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan program.
Di balik berbagai langkah tersebut, sosok Nanik S. Deyang dinilai memiliki pengalaman yang relevan untuk memimpin transformasi BGN.
Perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968 itu memiliki latar belakang akademik di bidang sains dengan gelar Sarjana Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman serta Magister Ilmu Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada. Kombinasi keilmuan tersebut memberikan pemahaman yang kuat mengenai isu pangan, lingkungan, dan pembangunan manusia.
Sebelum berkiprah di pemerintahan, Nanik dikenal luas sebagai jurnalis dan profesional media. Ia memulai karier sebagai wartawati dan kemudian dipercaya memimpin sejumlah perusahaan media nasional. Pengalaman panjang di dunia jurnalistik membentuk karakter kepemimpinan yang dikenal disiplin, kritis, dan dekat dengan persoalan masyarakat.
Karier pengabdiannya kemudian berkembang ke berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), hingga Wakil Kepala Badan Gizi Nasional sebelum akhirnya dipercaya memimpin lembaga tersebut.
Pengalaman lintas sektor yang dimilikinya menjadi modal penting dalam mengelola program yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan menjangkau masyarakat di seluruh Indonesia.
Tidak hanya mengandalkan program pemerintah, Nanik juga mendorong kolaborasi yang lebih luas dengan dunia usaha, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas gizi nasional membutuhkan partisipasi bersama karena manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh bangsa.
Pendekatan kolaboratif tersebut sejalan dengan visi BGN untuk membangun sistem pemenuhan gizi yang berkelanjutan. Di tengah kebutuhan anggaran yang besar dan tantangan geografis Indonesia yang kompleks, sinergi antara pemerintah dan berbagai pihak dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pencapaian target pembangunan manusia.
Bagi Nanik, pembangunan gizi bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis bagi masa depan Indonesia. Kualitas gizi yang baik akan berdampak langsung pada kesehatan, kemampuan belajar, produktivitas, hingga daya saing bangsa di tingkat global. Karena itu, setiap kebijakan yang dijalankan BGN diarahkan untuk menciptakan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.
Dengan pengalaman profesional yang beragam, dukungan tim yang kuat, serta fokus pada penguatan kualitas layanan, kepemimpinan Nanik S. Deyang membawa optimisme baru bagi Badan Gizi Nasional. Arah baru yang dibangun tidak hanya bertujuan memperluas akses terhadap makanan bergizi, tetapi juga memastikan bahwa setiap intervensi yang dilakukan mampu menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat, unggul, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
