Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto. S.Sos., M.M. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto, menegaskan kesiapsiagaan bencana tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan harus menjadi budaya hidup masyarakat.
Pesan itu disampaikan Suharyanto saat memimpin puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Banda Aceh, Minggu (26/4), yang diikuti sekitar 291 ribu peserta di 34 provinsi.
Dalam momentum nasional itu, Suharyanto menyaksikan simulasi evakuasi mandiri serentak dari berbagai daerah, sekaligus menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif menghadapi ancaman bencana.
“Masyarakat Indonesia hidup di wilayah kaya sumber daya, tapi juga sangat rentan bencana. Karena itu kesadaran dan kesiapsiagaan harus terus dipelihara,” ujar Suharyanto.
Ia menekankan, kesiapsiagaan bukan hanya soal memiliki alat peringatan dini atau rutin menggelar simulasi, tetapi memastikan sistem berfungsi, masyarakat memahami peran, dan respons cepat benar-benar berjalan saat ancaman datang.
Pemilihan Banda Aceh sebagai lokasi puncak HKB pun sarat makna. Aceh dinilai menjadi simbol penting pembelajaran kebencanaan nasional, sekaligus pengingat pentingnya kesiapan setiap saat.
Dalam simulasi yang dipantau langsung Kepala BNPB, masyarakat diperlihatkan bagaimana sistem peringatan dini, sirine evakuasi, dan respons warga dapat bekerja terpadu menghadapi ancaman banjir.
Bagi Suharyanto, HKB harus menjadi gerakan berkelanjutan untuk menekan risiko, bukan agenda seremonial semata.
