Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis. Dok: Istimewa.
Jakarta – PT Geo Dipa Energi (Persero) memperkuat langkahnya menjadikan kawasan Dieng, Jawa Tengah, sebagai salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional. Perusahaan resmi memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) dengan nilai investasi sekitar US$350 juta.
Proyek ini menjadi bagian penting dari ekspansi Geo Dipa dalam mengoptimalkan potensi panas bumi sebagai sumber energi domestik sekaligus memperkuat pasokan listrik bersih dan andal bagi sistem kelistrikan Jawa.
Groundbreaking PLTP Dieng Unit 2 berlangsung pada Kamis (25/6/2026). Proyek tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) dan ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2028.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Yudistian Yunis mengatakan investasi sekitar US$350 juta mencakup pembangunan fasilitas pembangkit sekaligus pengeboran sekitar 10 sumur produksi.
“Nilai investasinya sekitar US$350 juta, termasuk biaya pengeboran dan pembangunan pembangkit. Di Dieng kami akan mengebor sekitar 10 sumur produksi,” ujar Yudistian.
Pengembangan PLTP Dieng Unit 2 dikerjakan oleh konsorsium PT Timas Suplindo dan PT Rekayasa Engineering dengan masa pelaksanaan 820 hari kalender sejak penyelesaian desain akhir pada Desember 2025.
Dengan tambahan kapasitas 55 MW, pengembangan ini akan membawa kapasitas terpasang pembangkit panas bumi di kawasan Dieng menjadi sekitar 100–120 MW.
Angka tersebut memperlihatkan semakin strategisnya Dieng dalam peta pengembangan panas bumi Indonesia. Kawasan ini tidak hanya menjadi lokasi pembangkit, tetapi berkembang menjadi basis penting untuk mengoptimalkan sumber energi panas bumi secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiyani Dewi menyebut pembangunan PLTP Dieng Unit 2 sebagai langkah nyata pengembang dalam mendorong pemanfaatan energi panas bumi Indonesia.
“Pembangunan PLTP Dieng ini sudah kita tunggu-tunggu dan merupakan langkah nyata dari pengembang Indonesia untuk mengembangkan energi panas bumi sebagai salah satu fondasi ketahanan energi nasional,” kata Eniya.
Menurutnya, optimalisasi panas bumi juga sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.
Bagi Geo Dipa, proyek Dieng 2 sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pengembang panas bumi nasional. Investasi besar yang digelontorkan menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih membutuhkan konsistensi, keberanian investasi, dan kemampuan mengelola proyek jangka panjang.
Dampak proyek juga tidak berhenti pada sektor energi. Selama masa konstruksi, proyek PLTP Dieng 2 membuka ruang keterlibatan masyarakat sekitar melalui penggunaan tenaga kerja lokal.
Direktur Utama PT Rekayasa Engineering Donal Silitonga mengatakan pihaknya berkomitmen memenuhi ketentuan penggunaan sedikitnya 20 persen tenaga kerja lokal, termasuk mendorong keterlibatan pekerja perempuan.
“Kami berkomitmen mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja lokal sesuai kontrak, termasuk mendorong keterlibatan perempuan dalam proyek ini,” ujar Donal.
Dengan investasi US$350 juta, tambahan kapasitas 55 MW, pengeboran 10 sumur produksi, serta target operasi pada 2028, PLTP Dieng Unit 2 menjadi salah satu langkah besar Geo Dipa dalam memperluas pemanfaatan energi panas bumi.
Lebih dari sekadar proyek pembangkit, pengembangan ini menegaskan arah Geo Dipa untuk terus mengubah potensi panas bumi Indonesia menjadi energi yang memberi nilai bagi ketahanan energi, perekonomian, dan masa depan energi rendah emisi.
Dieng pun semakin meneguhkan posisinya sebagai salah satu episentrum pengembangan panas bumi nasional dan Geo Dipa berada di garis depan dalam menggerakkan potensi tersebut.
