Ketua BPKN Muhammad Mufti Mubarok. Dok: Istimewa.
Jakarta – Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat kebutuhan masker di tengah masyarakat meningkat. Di tengah kondisi tersebut, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) bergerak mengantisipasi agar lonjakan permintaan tidak berujung pada kelangkaan maupun harga yang membebani konsumen.
Ketua BPKN Muhammad Mufti Mubarok mengatakan, pihaknya telah menerima pengaduan masyarakat secara daring mengenai fenomena panic buying masker.
Aduan tersebut menjadi perhatian BPKN karena kebutuhan masker meningkat bersamaan dengan kewaspadaan masyarakat terhadap sebaran abu vulkanik.
Mufti menegaskan, situasi bencana tidak boleh dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan secara tidak wajar dengan mengorbankan konsumen.
“Secara online sudah ada panic buying. Artinya, ada mereka yang kemudian memanfaatkan situasi menjual barang pada saat-saat seperti ini,” ujar Mufti saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut Mufti, langkah paling penting saat ini adalah memastikan rantai pasok masker tetap berjalan. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan mulai dari sisi logistik, gudang hingga titik penjualan.
BPKN mendorong pemerintah segera melakukan pengecekan terhadap ketersediaan masker di berbagai jalur distribusi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah keterbatasan barang memang terjadi akibat peningkatan permintaan atau terdapat persoalan dalam distribusi.
“Pemerintah harus tegas. Kemudian bagaimana kita melakukan cek di logistik, di gudang-gudang dan di penjualan,” katanya.
Mufti menjelaskan, panic buying pada situasi bencana umumnya tidak berlangsung lama. Ketika masyarakat memperoleh kepastian mengenai kondisi bencana dan pasokan kembali normal, permintaan biasanya ikut mereda.
“Biasanya cuma satu-dua hari, tiga hari. Hari keempat, hari kelima sudah normal,” ujarnya.
Meski demikian, BPKN menilai masa awal terjadinya lonjakan permintaan tetap perlu mendapat perhatian.
Sebab, pada periode tersebut konsumen berada dalam kondisi membutuhkan barang secara cepat sehingga lebih rentan menghadapi keterbatasan pilihan maupun perubahan harga.
Permintaan Masker Meningkat
Kebutuhan masker meningkat setelah pemerintah mengimbau masyarakat melakukan perlindungan diri dari paparan abu vulkanik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker, dengan KN-95 sebagai salah satu pilihan yang diprioritaskan.
Imbauan tersebut turut mendorong masyarakat memburu masker. Kondisi di lapangan menunjukkan sejumlah gerai ritel mengalami keterbatasan stok, sementara masker dengan spesifikasi tertentu juga banyak dicari melalui platform perdagangan daring.
Situasi ini menjadi alasan BPKN mendorong pengawasan dilakukan dari hulu hingga hilir.
Dengan pasokan yang terpantau dan distribusi yang berjalan, kebutuhan masyarakat diharapkan tetap dapat dipenuhi tanpa menimbulkan kepanikan berkepanjangan.
Bagi BPKN, perlindungan konsumen dalam situasi bencana bukan hanya menyangkut harga.
Ketersediaan barang, kelancaran distribusi dan kepastian masyarakat memperoleh produk yang dibutuhkan juga menjadi bagian penting yang harus dijaga.
Mufti menegaskan BPKN akan terus mencermati perkembangan di lapangan. Pengawasan tersebut diharapkan dapat memastikan masyarakat tetap mendapatkan masker dengan harga yang wajar di tengah meningkatnya kebutuhan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dengan langkah antisipasi sejak awal, BPKN ingin memastikan kebutuhan perlindungan masyarakat tidak berubah menjadi persoalan baru bagi konsumen.
