Jakarta – Di tengah perubahan selera dan cara berjualan yang semakin digital, Tri Damayanti bersama suaminya tetap menekuni pembuatan blangkon di Pracimantoro. Bagi keluarga ini, blangkon bukan sekadar kerajinan, tetapi keterampilan yang menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghasilan keluarga.
Setiap blangkon dibuat melalui proses yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan. Di balik produk tradisional tersebut, ada usaha untuk menjaga produksi tetap berjalan sekaligus membuat blangkon mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Perjalanan usaha Tri mendapat dukungan dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Sejak menjadi nasabah pada 2023, Tri memperoleh akses pembiayaan yang membantu memenuhi kebutuhan bahan baku.
Namun, dukungan tersebut tidak berhenti pada pembiayaan. Melalui berbagai kegiatan pemberdayaan, PNM memberikan pelatihan dan pendampingan yang membantu Tri mengembangkan cara memasarkan produknya.
Media sosial kemudian dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperkenalkan blangkon kepada calon pembeli. Cara tersebut membuka kesempatan bagi produk yang selama ini dibuat secara tradisional untuk dikenal lebih luas.
“Terima kasih kepada PNM yang telah memberikan pelatihan dan pendampingan yang sangat bermanfaat bagi usaha saya. Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, saya bisa memasarkan produk melalui media sosial sehingga produk saya semakin dikenal luas,” ujar Tri.
Bagi Tri, pendampingan tersebut memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan usaha. Pembiayaan membantu kebutuhan produksi, sementara pengetahuan pemasaran memberi ruang untuk memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas.
Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, PNM berupaya membuka akses sekaligus menciptakan kesempatan agar masyarakat prasejahtera dapat mengembangkan potensi yang telah dimiliki.
Menurutnya, pembiayaan menjadi pintu masuk, sedangkan pemberdayaan membantu nasabah memperoleh pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha.
“Membuka akses bukan hanya tentang memberikan pembiayaan. Kami ingin membuka kesempatan agar setiap nasabah dapat belajar, mengembangkan usaha, dan semakin percaya diri dengan potensi yang dimilikinya,” ujar Kindaris.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya PNM mendampingi nasabah agar usaha yang dijalankan tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk berkembang.
Bagi usaha seperti milik Tri, pengembangan ekonomi keluarga berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan keterampilan tradisional. Ketika pemasaran semakin luas, blangkon yang dibuat secara turun-temurun pun memiliki kesempatan untuk tetap dikenal di tengah perubahan zaman.
“Saya berharap pendampingan ini terus berlanjut agar kami sebagai nasabah bisa terus berkembang, lebih percaya diri, mampu mengembangkan usaha, serta meningkatkan perekonomian keluarga,” kata Tri.
Dari rumah usaha di Pracimantoro, blangkon-blangkon itu terus dibuat dengan tangan. Setiap pesanan bukan hanya menjadi pemasukan bagi keluarga Tri, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah produk tradisional untuk terus menemukan tempat di tengah pasar dan generasi yang terus berubah.
