Arief Mulyadi, S.Si., M.Si. Dok: Istimewa.
Jakarta – Perjalanan pemberdayaan ekonomi ultra mikro di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran sejumlah tokoh yang membangun sistem dari akar rumput hingga menjadi gerakan nasional.
Salah satu nama yang kerap disebut dalam perjalanan tersebut adalah Arief Mulyadi, sosok yang tumbuh dari internal dan meniti karier sejak awal berdirinya PT Permodalan Nasional Madani (PNM) pada tahun 1999.
Arief memulai langkahnya dari posisi paling dekat dengan masyarakat, yakni sebagai Account Officer (AO) lapangan. Dari peran tersebut, ia bersentuhan langsung dengan dinamika usaha kecil, terutama para pelaku usaha perempuan di tingkat akar rumput.
Pengalaman ini menjadi fondasi penting yang membentuk cara pandangnya dalam membangun sistem pemberdayaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Seiring waktu, kariernya terus berkembang hingga menempati berbagai posisi strategis, termasuk Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko, sebelum akhirnya dipercaya memimpin PNM sebagai Direktur Utama selama dua periode pada 2018-2026. Di bawah kepemimpinannya, arah pengembangan perusahaan semakin menekankan aspek pemberdayaan, khususnya melalui program PNM Mekaar.
Dalam periode tersebut, PNM Mekaar berkembang menjadi salah satu model pemberdayaan ultra mikro terbesar di Indonesia. Program ini tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga pendampingan usaha yang menyentuh aspek sosial dan psikologis, terutama bagi perempuan prasejahtera yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Arief juga mendorong perubahan pendekatan di internal organisasi. Account Officer tidak lagi diposisikan sekadar sebagai penyalur pembiayaan, melainkan sebagai pendamping usaha yang hadir secara rutin di tengah kelompok nasabah. Pendekatan ini memperkuat hubungan antara lembaga dan masyarakat menjadi lebih dekat, personal, dan berorientasi pada pertumbuhan bersama.
Sistem kelompok berbasis tanggung renteng menjadi salah satu pilar penting dalam program Mekaar. Selain menjaga kedisiplinan pembiayaan, sistem ini juga membangun solidaritas sosial di antara anggota kelompok, yang di banyak daerah berkembang menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Di bawah arahannya, PNM Mekaar tumbuh pesat hingga menjangkau lebih dari 15 juta nasabah perempuan prasejahtera di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Capaian ini menjadikan PNM sebagai salah satu institusi pemberdayaan ultra mikro dengan jangkauan terbesar di dunia.
Menjelang akhir masa jabatannya, jumlah nasabah PNM terus menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga melampaui 20 juta jiwa. Tercatat, sebanyak 22,7 juta nasabah per Juni 2026 merupakan akumulasi dari fondasi kuat yang dibangun selama masa kepemimpinannya, yang kemudian dilanjutkan dan terus dikembangkan oleh manajemen penerusnya.
Namun bagi Arief, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang menekankan pentingnya kehadiran langsung di lapangan. Dalam berbagai kesempatan, ia turun langsung ke cabang-cabang daerah untuk berdialog dengan Account Officer dan nasabah, memastikan kebijakan perusahaan selaras dengan realitas masyarakat.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam budaya kerja internal PNM, di mana pendampingan masyarakat kecil dipandang sebagai bentuk pengabdian. Nilai ini menjadi semangat yang terus dijaga oleh insan PNM di berbagai daerah.
Perjalanan tersebut turut diwarnai tantangan besar, terutama saat pandemi COVID-19. Di tengah tekanan ekonomi dan keterbatasan mobilitas, PNM tetap berupaya menjaga keberlanjutan layanan kepada nasabah ultra mikro melalui berbagai penyesuaian operasional.
Transformasi penting lainnya terjadi ketika PNM menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro bersama Bank Rakyat Indonesia dan Pegadaian. Integrasi ini memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat kecil sekaligus memperkuat infrastruktur digital dan efisiensi operasional, tanpa menghilangkan fokus pada pemberdayaan.
Selain itu, Arief juga mendorong pengembangan sumber daya manusia, termasuk membuka ruang bagi generasi muda, khususnya perempuan lulusan SMA/SMK, untuk berkarier sebagai Account Officer di lapangan. Langkah ini memperkuat kapasitas organisasi sekaligus memberikan dampak sosial yang lebih luas.
Setelah masa pengabdiannya berakhir pada awal 2026, jejak kepemimpinan Arief Mulyadi tetap melekat dalam perjalanan PNM. Lebih dari sekadar catatan korporasi, warisan terbesarnya terlihat pada perubahan kehidupan jutaan keluarga yang tumbuh bersama program pemberdayaan tersebut.
Bagi banyak pihak, Arief Mulyadi bukan hanya bagian dari sejarah perusahaan, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang pemberdayaan ekonomi rakyat kecil di Indonesia jejak yang terus hidup di tengah masyarakat hingga hari ini.
