Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin. Dok: Kemenag.
Jakarta – Kementerian Agama terus memperkuat komitmennya dalam menjadikan ajaran agama sebagai fondasi pengelolaan lingkungan hidup.
Melalui Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM), Kemenag resmi memulai Diklat Ekoteologi, sebuah program pelatihan yang memadukan nilai keagamaan dengan aksi penyelamatan lingkungan.
Baca juga: PNM Tebar Semangat Positif, 187 Karyawan Terbaik Nikmati Reward Journey Internasional
Dalam pembukaan kegiatan, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menyebut diklat ini sebagai langkah signifikan. Ia menilai, wacana ekoteologi sudah saatnya diterjemahkan menjadi gerakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
โSelain pendekatan normatif, saya ingin setiap konsep bisa muncul dalam bentuk aksi yang terukur dan dampaknya nyata,โ ujar Kamaruddin di Ciputat.
Dari Wacana ke Aksi: Tanam Jutaan Pohon
Ekoteologi telah menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama. Salah satu inisiatif yang mulai berjalan adalah Gerakan Tanam 1 Juta Pohon.
Menurut Kamaruddin, skala gerakan itu bahkan bisa diperluas mengingat potensi besar yang dimiliki Kemenag.
โKalau setiap dari 1 juta guru kita menanam satu pohon saja, itu sudah gerakan luar biasa. Bahkan 10 juta pohon dalam satu tahun bukan hal sulit bagi Kemenag,โ tegasnya optimis.
Ia juga menyinggung gagasan menarik: mendorong calon pengantin menanam pohon sebelum menikah sebagai simbol cinta yang tumbuh dan bertahan.
Baca juga: Di Tengah Bencana, 286 SPPG Jadi Penopang Harapan Pengungsi di Tiga Provinsi Terdampak
Dengan jumlah pasangan menikah yang mencapai 1,5 juta jiwa per tahun, gerakan kecil ini diyakini dapat memberi dampak ekologis besar.
Agama, Iklim, dan SDGs
Kamaruddin menilai isu ekologi, perubahan iklim, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) merupakan ruang di mana agama memiliki peran sangat penting.
Banyak ajaran agama, kata dia, sudah sejak lama menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Ia memberi contoh ajaran Nabi Muhammad SAW yang secara eksplisit berbicara tentang etika lingkungan.
โDalam banyak riwayat, Nabi melarang menebang pohon sembarangan dan mengingatkan agar tidak mencemari air. Itu nilai ekoteologi yang relevan hingga hari ini,โ ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemuka agama, ASN, dan masyarakat luas untuk mengoptimalkan potensi nilai keagamaan dalam memperkuat kesadaran ekologis.
Diklat yang Melahirkan Penggerak
Diklat Ekoteologi bertema โJalan Iman Selamatkan Semestaโ ini diikuti 60 peserta terpilih dari 2.053 pendaftar. Mereka berasal dari berbagai wilayah dan latar belakang, mulai dari pejabat Eselon II, Kepala Kanwil, Rektor, hingga guru.
Baca juga: Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air Tanggal 3 Desember 2025
Pelatihan ini dirancang untuk menghasilkan para champion penggerak yang mampu menerjemahkan konsep ekoteologi ke dalam kebijakan, program, maupun aktivitas nyata di lapangan.
โJadilah penerjemah utama. Ambil bagian dalam menyukseskan program prioritas ekoteologi ini,โ pesan Kamaruddin menutup sambutannya.
Melalui program seperti diklat ini, Kemenag berharap gerakan ekologis berbasis nilai agama dapat berkembang lebih luas, menjadi budaya baru yang mempertemukan kecintaan pada alam dengan kualitas spiritual yang lebih matang.
