Dok: Istimewa.
Jakarta – Sepuluh tahun perjalanan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk terus memperkuat identitas kota sebagai destinasi budaya dan pariwisata.
Memasuki penyelenggaraan ke-10, WJNC 2026 kembali hadir dengan kemasan yang semakin kreatif sekaligus membawa pertunjukan budaya ke ruang publik yang lebih luas.
WJNC 2026 digelar pada Rabu (7/10/2026) malam sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Ribuan peserta dan penonton memadati jalur karnaval dari kawasan Teteg Sepur Stasiun Tugu, menyusuri Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.
Bagi Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, satu dekade WJNC menunjukkan bahwa budaya tradisional dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar identitasnya. Wayang sebagai sumber inspirasi pertunjukan dikemas melalui koreografi, musik, kostum, properti, tata cahaya dan karya visual dari 14 Kemantren.
“Dengan rute yang lebih panjang, kita ingin WJNC semakin dekat dengan masyarakat dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Malioboro malam ini menjadi panggung besar masyarakat Yogyakarta, tempat budaya, kreativitas, pariwisata dan kegiatan ekonomi bertemu,” kata Hasto.
Pemilihan Malioboro sebagai bagian dari rute WJNC 2026 juga memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat dan wisatawan untuk menikmati pertunjukan. Kawasan ikonik tersebut menjadi titik temu antara atraksi budaya, aktivitas wisata dan geliat ekonomi masyarakat.
Tahun ini, WJNC mengangkat tema “Gana Kalajaya” dengan pesan “Ngelih iki kelakone kanthi laku”, yang dimaknai bahwa ilmu akan hidup apabila dijalankan. Tema tersebut diterjemahkan melalui berbagai pertunjukan dari 14 Kemantren yang membawa karakter dan identitas masing-masing.
Hasto menyebut tema tersebut juga membawa pesan ora mingkuh, yakni tidak menghindar dan tidak menyerah menghadapi berbagai tantangan. Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, sedangkan Jaya menggambarkan kejayaan yang dibangun bersama.
Pesan tersebut sejalan dengan tema HUT ke-270 Kota Yogyakarta, “Otentik Konkret”. Budaya tidak hanya diposisikan sebagai identitas yang diwariskan, tetapi juga sebagai kekuatan yang dapat diwujudkan melalui karya, kreativitas dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Daya tarik WJNC 2026 semakin kuat karena event tahunan tersebut kembali masuk dalam 10 Top Kharisma Event Nusantara (KEN). Capaian ini menjadi bagian penting dari perjalanan WJNC dalam membangun daya tarik wisata berbasis budaya sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta di tingkat nasional.
Kemeriahan WJNC juga tidak hanya melibatkan peserta dari Kota Yogyakarta. Sejumlah daerah turut ambil bagian, antara lain DKI Jakarta, Mojokerto, Brebes, Magelang, Sleman, Bantul hingga Ponorogo. Kehadiran peserta lintas daerah memperluas ruang pertukaran budaya dalam gelaran tersebut.
WJNC 2026 juga membawa konsep Green Event melalui penggunaan eco costume, edukasi lingkungan serta kepedulian terhadap kebersihan ruang kota. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan event yang meriah sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Memasuki usia satu dekade, WJNC semakin menunjukkan bahwa kekuatan budaya dapat menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik sebuah kota. Di bawah kepemimpinan Hasto Wardoyo, panggung WJNC tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, masyarakat, pariwisata dan aktivitas ekonomi.
Dengan konsistensi tersebut, WJNC diharapkan terus berkembang sebagai salah satu ikon event budaya Yogyakarta, sekaligus memperkuat citra Kota Yogyakarta sebagai kota yang mampu menjaga tradisi, menghadirkan kreativitas dan memberikan pengalaman wisata yang khas bagi masyarakat maupun wisatawan.
