Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu. Dok: Istimewa.
Jakarta – Rumah subsidi yang sudah terbangun tidak seharusnya kehilangan pasar hanya karena sebelumnya pernah menjadi bagian dari kredit bermasalah. Karena itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) mendorong pemerintah segera merampungkan skema recycle Kredit Pemilikan Rumah (KPR) agar rumah eks-non-performing loan (NPL) dapat kembali disalurkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, skema tersebut diperlukan untuk menghidupkan kembali rumah-rumah yang sebelumnya dibiayai melalui KPR subsidi, tetapi kemudian kembali ke bank karena debitur mengalami NPL.
Saat ini, KPR subsidi diperuntukkan bagi rumah baru. Ketika rumah tersebut kembali ke bank akibat kredit bermasalah, statusnya berubah menjadi rumah bekas sehingga tidak dapat langsung dipasarkan kembali menggunakan KPR subsidi.
“Jadi yang sudah NPL, yang orang-orang sudah menyerahkan rumah, kan sekarang berhenti nih, enggak bisa dijual pakai KPR subsidi karena KPR subsidi definisinya rumah baru. Nah itu lagi sedang digodok juga sehingga market rumah KPR itu tetap ada,” ujar Nixon di Jakarta Selatan, dikutip Rabu (7/10/2026).
Menurut Nixon, skema recycle KPR dapat menjadi solusi agar rumah eks-NPL tetap memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka kembali akses pembiayaan bagi masyarakat yang membutuhkan rumah.
Lebih jauh, mekanisme tersebut berpotensi membentuk pasar sekunder untuk rumah subsidi. Rumah MBR yang telah terbangun tetap dapat dimanfaatkan dan diperdagangkan kembali melalui mekanisme pembiayaan yang sesuai.
“Jadi, di ekonomi rumah-rumah MBR ini juga tetap ada. Kebentuk price-nya, ekonominya kebentuk, mekanisme pasarnya juga kebentuk,” kata Nixon.
Konsep tersebut, lanjutnya, pada dasarnya bukan hal yang asing. Nixon mengibaratkannya seperti kendaraan yang setelah dimiliki seseorang masih dapat kembali diperdagangkan melalui pasar kendaraan bekas.
Dengan pendekatan serupa, rumah subsidi eks-NPL dapat kembali menjadi bagian dari ekosistem perumahan tanpa harus selalu membangun kawasan baru untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat.
Hal ini juga berkaitan dengan ketersediaan lokasi. Rumah yang sudah terbangun umumnya berada di kawasan yang telah memiliki akses dan aktivitas masyarakat. Jika dapat disalurkan kembali, masyarakat berpenghasilan rendah memiliki lebih banyak pilihan hunian tanpa harus mencari rumah semakin jauh dari pusat kegiatan.
“Terus terang kita lagi dorong yang recycle KPR supaya ada solusi buat rumah-rumah NPL bisa dijual kembali. Lokasinya juga enggak terlalu jauh karena rumah lama, jadi enggak terlalu jauh sampai ke Karawang sana,” jelas Nixon.
Bagi BTN, penyelesaian skema recycle KPR menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesinambungan pasar rumah subsidi sekaligus memastikan rumah yang sudah tersedia tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di tengah kebutuhan hunian yang terus berkembang, optimalisasi rumah yang telah terbangun menjadi bagian penting dalam memperluas pilihan bagi MBR. Skema tersebut diharapkan dapat mempertemukan kembali rumah yang tersedia dengan masyarakat yang membutuhkan pembiayaan hunian terjangkau.
