Dok: Istimewa.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) terus memperluas kolaborasi internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas statistik Indonesia. Kerja sama dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan lembaga internasional menjadi ruang bagi BPS untuk bertukar pengetahuan, memperkuat metodologi, serta mengikuti perkembangan statistik global.
Penguatan kerja sama tersebut dilakukan dalam Sidang ke-15 OIC-StatCom yang berlangsung di Jeddah, Arab Saudi, pada 29-30 September 2026. Forum tersebut mempertemukan lembaga statistik dari negara-negara anggota OKI untuk membahas perkembangan dan tantangan statistik di tengah perubahan kebutuhan data.
Delegasi BPS dipimpin Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo Harmadi. Dalam forum tersebut, BPS berbagi pengalaman mengenai sejumlah agenda strategis, termasuk pemanfaatan registrasi penduduk dan data administrasi untuk mendukung Sensus Penduduk 2030, persiapan penerapan System of National Accounts (SNA) 2025, serta pengembangan statistik air bersih dan sanitasi.
Untuk menghadapi kebutuhan data kependudukan yang semakin dinamis, BPS mendorong penguatan sistem statistik yang terintegrasi. Pemanfaatan registrasi penduduk dan data administrasi diarahkan untuk mendukung pembaruan data yang lebih cepat dan berkelanjutan, dengan survei, verifikasi lapangan, serta penjaminan kualitas tetap diperkuat.
Di bidang statistik sosial dan lingkungan, BPS juga membahas pemanfaatan Susenas untuk memantau akses rumah tangga terhadap air minum dan sanitasi. Integrasi berbagai sumber data dinilai penting untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi dan keberlanjutan layanan dasar masyarakat.
Perkuat Kemitraan Internasional
Kolaborasi BPS tidak berhenti pada forum multilateral. Dalam rangkaian pertemuan bilateral, BPS memperkuat kemitraan dengan sejumlah lembaga statistik nasional.
Bersama TURKSTAT dari Turki, BPS menandatangani nota kesepahaman yang mencakup metodologi sensus modern, integrasi data administrasi, dan transformasi digital statistik resmi.
BPS juga memperkuat kerja sama dengan Arab Saudi melalui GASTAT dalam pengembangan statistik haji dan umrah, statistik halal, PDB syariah, serta statistik ekspor-impor. GASTAT turut menawarkan pertukaran pengetahuan mengenai digitalisasi statistik.
Sementara dengan Mesir melalui CAPMAS, BPS membahas rencana modernisasi statistik dan penerapan standar internasional baru. BPS juga menjajaki pengembangan statistik kemiskinan multidimensi bersama Islamic Development Bank (IsDB).
Siapkan Statistik Mengikuti Perubahan
Transformasi statistik juga terlihat dalam persiapan Indonesia menuju penerapan SNA 2025. BPS saat ini melakukan asesmen dan persiapan melalui penelaahan metodologi, penguatan sumber daya manusia, serta pembangunan infrastruktur statistik.
BPS turut memanfaatkan hasil Experimental Time Use Study 2023 untuk mengukur nilai tambah jasa rumah tangga yang tidak dibayar. Kajian tersebut memperkirakan nilai jasa rumah tangga tidak dibayar setara dengan 13,63 persen dari PDB Indonesia pada 2023.
Rangkaian kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya BPS memastikan statistik Indonesia tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pembangunan. Kolaborasi internasional sekaligus membuka ruang untuk mempelajari praktik terbaik serta menyempurnakan metode statistik.
Atas dukungan seluruh delegasi, BPS mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Sidang ke-16 OIC-StatCom pada 2027. Kepercayaan tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk kembali berperan dalam penguatan kerja sama statistik di tingkat global.
Melalui kolaborasi yang semakin luas, BPS terus mendorong statistik Indonesia yang berkualitas, relevan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.
