Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meninjau langsung operasi pemadaman karhutla di Kertapati, Palembang.
Jakarta – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga pemulihan pascakebakaran. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan, personel di lapangan tidak hanya bergerak ketika api sudah muncul.
Hal itu disampaikan Suharyanto saat bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meninjau penanganan karhutla di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (18/9/2026).
“Personel tidak hanya disiapkan untuk memadamkan api, tetapi digerakkan sejak fase pencegahan, deteksi dini sampai dengan pemulihan pascakebakaran,” ujar Suharyanto.
Pernyataan tersebut menggambarkan pola operasi penanganan karhutla yang tidak semata-mata berorientasi pada pemadaman. Pencegahan, pemantauan titik panas, patroli, respons cepat hingga pemulihan menjadi bagian dari rangkaian penanggulangan yang dilakukan secara terpadu.
Berdasarkan paparan Komandan Operasi Satgas Karhutla Sumsel, Danrem 044/Gapo, hingga 17 September 2026 pukul 05.00 WIB tercatat 3.039 hotspot di Sumatera Selatan. Hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir sebanyak 1.034 titik, Musi Banyuasin 684 titik, Banyuasin 379 titik dan Muara Enim 299 titik.
Secara kumulatif, sejak Januari hingga 16 September 2026 tercatat 49.591 hotspot di wilayah Sumatera Selatan.
Sementara itu, patroli udara dan tim darat pada 16 September menemukan 63 kejadian karhutla. Total kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 mencapai 3.098 kejadian.
Untuk kejadian pada 16 September, estimasi luas lahan terbakar mencapai 531,31 hektare. Satgas darat telah menangani sekitar 214,06 hektare, sedangkan pemadaman menggunakan helikopter water bombing menjangkau sekitar 30 hektare.
Operasi di lapangan saat ini difokuskan pada lima wilayah, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim.
Dalam menjalankan respons, kekuatan Satgas Karhutla Sumsel mencapai 12.285 personel. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Lanud Sri Mulyono Herlambang, Manggala Agni, Polhut dan Satpol PP hingga Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api serta unsur pemadam dari perusahaan perkebunan.
Selain kekuatan personel, penanganan didukung 1.101 posko karhutla yang tersebar di berbagai wilayah.
Suharyanto juga menekankan pentingnya dukungan operasi udara. Helikopter digunakan untuk patroli, melakukan verifikasi hotspot, menentukan titik api prioritas, melaksanakan water bombing hingga memantau dan mengevaluasi hasil pemadaman.
Di sisi pencegahan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi kekeringan.
Penanganan karhutla juga diarahkan untuk memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat, terutama terkait asap dan kualitas udara. Pemerintah mendorong agar informasi kualitas udara dapat disampaikan secara cepat dan mudah dipahami, sekaligus diikuti langkah mitigasi apabila terjadi penurunan kualitas udara.
Sumatera Selatan menjadi salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla yang mendapat dukungan BNPB bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Melalui pendekatan dari hulu hingga hilir, penanganan karhutla di Sumatera Selatan terus diarahkan agar tidak hanya mampu merespons kebakaran yang terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan, mempercepat deteksi dan respons, serta memastikan proses pemulihan dapat berjalan setelah kondisi terkendali.
