Menteri PKP Maruarar Sirait bersama Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho berbincang dengan warga yang mendaftar untuk mendapatkan informasi dan akses pembiayaan rumah pertama dalam Bazar Pesona Merdeka 2026 di M Bloc Space, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Jakarta – Keinginan memiliki rumah pertama terlihat dari antusiasme masyarakat dalam Bazar Pesona Merdeka 2026 yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di M Bloc Space, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Sebanyak 89 masyarakat mendaftar untuk memperoleh informasi dan akses pembiayaan perumahan melalui kegiatan tersebut. Momentum ini dimanfaatkan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) untuk mendekatkan informasi KPR Sejahtera FLPP kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), termasuk pelaku UMKM dan generasi muda.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri PKP Maruarar Sirait bersama Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho. Maruarar bahkan turun langsung menyapa dan berdialog dengan sejumlah pelaku UMKM serta masyarakat yang hadir.
Heru mengatakan, keterlibatan BP Tapera dalam Pesona Merdeka 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi mengenai pembiayaan rumah pertama.
“BP Tapera hadir untuk mendekatkan informasi pembiayaan perumahan kepada masyarakat. Kami ingin pelaku UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah mengetahui bahwa mereka memiliki kesempatan untuk mengakses pembiayaan rumah pertama melalui KPR Sejahtera FLPP,” ujar Heru.
Menurut Heru, antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap hunian pertama masih tinggi. Peserta yang datang juga memiliki latar belakang beragam, mulai dari pekerja hingga pelaku usaha.
“Dari kegiatan ini kami melihat antusiasme masyarakat cukup tinggi. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap rumah pertama masih sangat besar, termasuk dari kalangan pelaku usaha dan pekerja yang selama ini mungkin belum memahami bagaimana cara mengakses pembiayaan perumahan,” katanya.
131.516 Unit FLPP Sudah Tersalurkan
Heru menyampaikan, hingga 19 Agustus 2026, realisasi penyaluran KPR Sejahtera FLPP telah mencapai 131.516 unit dengan nilai pembiayaan Rp16,36 triliun.
Sementara itu, pemerintah menyediakan kuota FLPP sebanyak 350.000 unit pada 2026. Dengan demikian, masih terdapat ruang bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan program pembiayaan rumah pertama tersebut.
Jawa Barat tercatat menjadi provinsi dengan realisasi penyaluran terbesar. Sebanyak 31.229 unit telah tersalurkan atau mencapai 23,75 persen dari total penyaluran nasional, dengan nilai pembiayaan sekitar Rp3,93 triliun.
Heru menegaskan BP Tapera akan terus memperluas sosialisasi agar masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan program, tetapi juga memahami persyaratan, manfaat hingga mekanisme pengajuan KPR Sejahtera FLPP.
“Program pembiayaan perumahan harus semakin dekat dengan masyarakat. Kami akan terus memberikan edukasi agar masyarakat memahami persyaratan, manfaat, serta proses pengajuan sehingga mereka yang memenuhi ketentuan dapat memanfaatkan kesempatan memiliki rumah pertama,” tegas Heru.
Maruarar Pastikan Program Tak Berhenti Seremonial
Kehadiran Menteri PKP Maruarar Sirait dalam kegiatan tersebut turut memberi warna tersendiri. Ia berinteraksi langsung dengan peserta dan mengecek berbagai latar belakang masyarakat yang mengikuti kegiatan.
Maruarar menemui pelaku usaha kreatif, barista, pekerja yayasan pendidikan hingga pelaku UMKM yang memproduksi barang secara mandiri. Salah satu peserta bahkan mengembangkan karya seni lukis anaknya yang merupakan penyandang autisme menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, Maruarar juga menekankan pentingnya memastikan setiap program pemerintah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia bahkan mengecek langsung kepada pihak BRI mengenai realisasi pembiayaan yang berlangsung dalam rangkaian kegiatan. Dari tiga hari pelaksanaan, transaksi BRI di Jakarta disebut mencapai Rp403 miliar dengan 662 debitur.
Angka tersebut merupakan data transaksi BRI, bukan capaian penyaluran BP Tapera.
Pesona Merdeka 2026 sendiri tidak hanya menghadirkan sosialisasi pembiayaan perumahan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pengusaha muda dan pengusaha muda penyandang disabilitas untuk memasarkan produk mereka.
Bagi BP Tapera, kolaborasi tersebut penting karena kebutuhan rumah dan penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Rumah pertama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi pijakan bagi keluarga dan pelaku UMKM untuk membangun usaha serta meningkatkan kemandirian ekonomi.
