Dok: Istimewa.
Jakarta – Perguruan tinggi dinilai harus mengambil peran lebih besar dalam menyiapkan generasi muda menghadapi persaingan global. Tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, kampus juga dituntut mampu melahirkan inovator, wirausahawan, hingga CEO muda yang siap menciptakan lapangan kerja dan menjawab tantangan zaman.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN RI), Prof. Mufti Mubarok, saat menjadi panelis dalam Innovation Festival (INOVEST) 2026 yang diselenggarakan Program Studi Manajemen Universitas MH Thamrin (UMHT) bersama Pentahelix Center di Jakarta.
Menurut Mufti, perubahan paradigma pendidikan tinggi menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membangun usaha, menghadirkan inovasi, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saya melihat ide-ide mereka hebat-hebat. Jangan pernah meremehkan mahasiswa. Mereka memiliki kreativitas dan cara berpikir yang luar biasa. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu menghubungkan mereka dengan dunia nyata,” ujar Mufti.
Ia mengungkapkan bahwa optimisme tersebut semakin menguat setelah melihat secara langsung sistem pengembangan kewirausahaan di Tiongkok dalam kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu. Di negara tersebut, kata Mufti, perguruan tinggi berperan sebagai pusat lahirnya perusahaan rintisan dan pemimpin bisnis muda.
“Di sana mahasiswa sejak dini sudah mendirikan perusahaan, membangun start up, bahkan memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan usahanya. Karena itu banyak CEO muda lahir dari kampus-kampus mereka. Ternyata itu bukan hanya cerita di drama Tiongkok, tetapi memang menjadi bagian dari sistem pendidikan mereka,” katanya.
Mufti menilai Indonesia memiliki potensi yang sama besar. Kreativitas dan kualitas sumber daya manusia tidak kalah dengan negara lain. Yang diperlukan adalah membangun ekosistem pendidikan yang mampu mempertemukan mahasiswa dengan dunia usaha, industri, pemerintah, komunitas, dan media sehingga ide-ide inovatif dapat berkembang menjadi solusi yang nyata.
Baginya, kampus harus menjadi kawah candradimuka yang menempa keberanian, kepemimpinan, kreativitas, serta kemampuan mahasiswa menghadapi tantangan riil, bukan sekadar ruang untuk menghafal teori.
“Ini bukan sekadar ujian mahasiswa, tetapi eksperimen pendidikan yang sangat menarik. Kampus tidak lagi hanya mengajarkan teori, tetapi membangun keberanian mahasiswa menguji ide di hadapan dunia nyata. Kalau model seperti ini dikembangkan secara konsisten, saya optimistis Indonesia juga mampu melahirkan lebih banyak entrepreneur, inovator, bahkan CEO muda yang mampu bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Gagasan tersebut tercermin dalam pelaksanaan INOVEST 2026 yang mengubah pola evaluasi pembelajaran. Mahasiswa tidak lagi menghadapi ujian tertulis, melainkan mempresentasikan ide bisnis dan inovasi yang telah mereka kembangkan selama satu semester di hadapan panel yang berasal dari unsur akademisi, pemerintah, pelaku usaha, praktisi, media, dan komunitas.
Sebanyak 10 kelompok mahasiswa memaparkan model bisnis, strategi pemasaran, analisis pasar, hingga proyeksi pengembangan usaha. Mereka diuji secara langsung mengenai kelayakan bisnis, efisiensi rantai pasok, aspek hukum, keberlanjutan usaha, serta dampak sosial dari inovasi yang ditawarkan.
Pengampu mata kuliah sekaligus Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan bagian dari transformasi pembelajaran berbasis Authentic Assessment, yakni sistem evaluasi yang mengukur kemampuan mahasiswa menyelesaikan persoalan nyata.
“Selama ini mahasiswa sering diuji berdasarkan kemampuan mengingat teori. Dunia nyata tidak pernah memberikan soal pilihan ganda. Dunia nyata memberikan persoalan yang harus dianalisis, diselesaikan, dipresentasikan, dan dipertanggungjawabkan. Karena itu yang kami uji bukan hafalan, tetapi ide, logika, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan berkolaborasi,” jelasnya.
Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, dan praktisi, mahasiswa tidak hanya memperoleh penilaian akademik, tetapi juga masukan langsung dari para pelaku di berbagai sektor.
Bagi Mufti Mubarok, kolaborasi seperti ini merupakan fondasi penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Ia meyakini, ketika kampus mampu menjadi ruang yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan dunia nyata, Indonesia akan semakin siap melahirkan generasi muda yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berani memimpin perubahan.
“Keberhasilan pendidikan tinggi tidak lagi hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah seberapa banyak inovator, entrepreneur, dan pemimpin masa depan yang lahir dari kampus untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa,” pungkasnya.
